Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Lepaskan dalam "Canvas"

  Siang tadi menonton film pendek berjudul Canvas  Canvas on Netflix . Dalam sembilan menit dikisahkan seorang kakek yang kehilangan semangat menulis karena kehilangan istri serta berada di kursi roda. Ia memiliki seorang cucu perempuan yang dititipkan setiap hari oleh anak perempuannya.cucu perempuannya ini punya kebiasaan menggambar juga di atas kertas. Cucu perempuan yang anak-anak itu sempat penasaran dengan sebuah ruangan. Ruangan gelap berisi pakaian yang juga sempat membuat sang kakek berhenti saat melewatinya.  Suati ketika, pensil cucu perempuan jatuh mrnggelinding menuju ruangan itu. Tidak disangka, besar keingintahuannya sang cucu perempuan melangkah menyibak sesuatu dibalik bakaian yang bergantung, sebuah pintu. Ia mengintip dari bawah daun pintu, lalu perlaham ia membukany. Ternyata itu adalah ruang lukis milik kakekknya. Ada sebuah lukisan yang belum selesai membuatnya tertarik. Namun, suara kursi roda sang kakek mendekat. Ia sudah ada di dekatnya. Dengan pa...

Hujan Hari Ini

Belakangan langit seringkali berwarna abu-abu. Aku pikir ini serupa pikiranku, terasa sendu. Entah, sebab apa yang membuatku merasa demikian. Mungkin karena aku sadar benar bahwa, pikiranku adalah ketidaksadaran. 

Cakrawala

Berharap orang lain akan bersikap seperti yang kita harapkan adalah sesuatu yang sulit dijangkau, barangkali absurd. Sebab kehendak kita saja itu bukan milik kita. Bahkan sikap kita seringkali diluar kesadaran kita. Lalu, kehendak dan kesadaran atas diri kita masih tumpang tindih. Lusuh dan rumit.  Saya heran dengan 'jiwa seorang ibu'. Mengapa mereka bersikap tidak rasional. Seolah-olah yakin benar bahwa menjadi ibu otomatis menjadi manusia baik. Dan hal tersebut adalah mutlak tidak akan digoyahkan oleh hal apapun. Sehingga, jauh di lubuk hatiku ada ketakutan menjadi ibu. Apakah aku akan menjadi egois dan kolot. Saya khawatir bahwa hal itu akan menyeeupa dalam sikap saya setelah saya menjadi ibu.  Saat ini saja, menjadi guru seolah menjadi sangat prinsipil dan ideal. Lelah sekali. Padahal saya tidak demikian. Banyak kekurangan dalam diri kita, di sisi lain saya bersyukur atas anugerah yang ada pada diri saya. Namun, ternyata seringkali saya keras ahati dan tidak ma...

Bangku Taman

Sesaat setelah hujan reda, ia akan merasa kesepian. Tidak ada cerita yang bisa ia dengarkan. Tidak ada air mata yang bisa ia saksikan. Tidak akan terasa hangat  jiwa yang kesepian. Tidak ada lelah yaang bersandar padanya. Tidak ada kesedihan yang menjadi penguninya. Ia, bangku taman dingin kesepian.  Ia berharap cuaca segera membaik. Saat langit cerah, dahan pohon Mahoni yang rimbun menjadikannya tempat sempurna. Tawa riang akan tetap terdengar dari hiruk pikuk manusia yang memekak kepala. Sesekali kali kecemasan data dari dada seorang perindu, hanya sesaat, setelah temu menjadikannya angin segar musim penghujan.  Saat gelap datang, gugusan bintang beranjak datang. Ada seseorang yang rela membuat pola membentuk harapan. Meskipun ia ikut merasakan nafas panjang menghela, bahwa hari ini tetap terasa berat. Ia menjadi sakssi sebuah senyum tanpa tawa dan kesedihan tanpa air mata. Ia menerka, manusia memang serumit itu.  Penghujung November yang sunyi pada dua...

Awan Putih

Awan putih berarak menghiasi langit biru. Hari yang cerah. Udara yang segar menyelinap diantara tawa-tawa masa muda. Bunga-bunga liar tumbuh, serupa hasrat di dada. Sementara, percakapan tumbuh diantara pikiran-pikiran yaang ranum. Tidak apa, sambil kunikmati asam manisnya perasaan yang berhulu di dada.  Sementara aku, rasanya semangatku serupa dahan pohon asam yang penuh urat kuat. Tetapi semua orang tahu bahwa di dalamnya kosong melompongbtak bernyawa. Seperti batang tua yang rapuh, tidak sedjumput tunas yang mampu tumbuh. Tanah di sekelilingku seperti tandusnya pikiran dan hasrat hidupku. Kubiarkan air mata menganak sungai. Berharap menjagaku agar hidupku baik-baik saja.  Tuhan, di hadapanku langit tetaplah kelabu. Sebab, setiap detik langkahku sembab oleh mimpi-mimpi yaang pudar. Lukisan kehidupan selalu tampak buram bagi pikiranku. Sebab, dadaku diaemai rasa benci yang sedekian kuat. Tidak berdaya akarnya menancap di dadaku, membuatnya terasa sesak bagi nafask...

Bunga Liar

Akarnya tumbuh di dalam tanah kering diguyur hujan semalam. Pucuk-pucuk daun tumbuh, mengajak kuncup bunga menari bersama kupu-kupu dan capung. Merekah, melambai, berderu bersama angin segar musim penghujan. Indah.  Sementara ia hanya sendiri, berkumpul dengan teman-temannya. Tanaman lain tidak mampu tumbuh di sekitarnya. Ia menebar kharisma yang kuat, tidak mampu didekati oleh orang si sekelilingnya. Kadangkala, ada yaang tumbuh bersamanya namun tidak butuh waktu lama, karena alelopati. Akarnya terallu kuat menjerat dirinya sendiri. Orang lain di sekelililangnya akan tumbang, karena merasa akarnya tidak terlalu dalam.  Sering kudapati bunga menangis di tengah malam. Di bawah langit malam berbintang yang indah, air matanya nya adalah ironi. Sementara angin bertiup pelan menggiyangkan dedaunan, suaranya lirih penuh pilu. Ia bersedih, karena menikmati malam dingin yang panjang, sendirian. Bunga-bunganya yang indah menutup diri, menguncup menggigip sendirian.  Sa...

Kepik

Sehari serasa tidak cukup untuk membuat harapan-harapanmu terwujud. Mendengarkan suara di sekelilingmu lalu menyimpannya di dadamu. Seketika ruangan yang lengang menjadi riuh oleh keramaian di dadaku. Membuatnya terasa berat dan melelahkan. Lepaskan.  Kamu sudah mepakukan yang terbaik. Mendengar suara hatimu, merangkainya sedemikian indah, lalu mengungkapkannya dalam baris-baris puisi. Saat penyair membacanya, energi yang kau titipkan menjelma gelombang-gelombang. Menggetarkan dada yang beku. Lalu, Gletser itu menganak sungai menjelma air mata.  Berterima kasihlah pada waktu yang berputar tidak berhenti. Ia menuntun perasaanmu tumbuh menjadi kenangan. Lalu tumbuh menjadi bunga-bunga kerinduan saat rinai kesepian turun dari langit. Mungkin sesekali ia akan kering oleh angin dan badai yang menghantam pikiranmu. Namun, benih-benih cinta akan senantiasa mengakar di dalam jiwamu.  Lalu, jika ada air mata jatuh di atas senyumanmu. Maka bersiaplah suguhkan embun-embu...

Selembut Awan Putih

Belakangan keresahan dan kebimbangan datang menghampiri. Saya lapar, tetapi tidak ingin makan ini tetapi ingin makan itu. Lalu khawatir makanan itu akan membuat kesehatan memburuk. Tidak juga, kadangkala karena khawatir hanya akan mengikuti hawa nafsu semata dengan makan itu lalu nanti menyesal. Bisa juga karena. Huek, belum selesai kalimat pikiranku aku sudah mual.  Perutku terasa tidak nyaman. Seperti ada semacam balon kecil memenuhi lambungku. Perlahan akan naik keatas menusuk ulu hatiku. Membuat detak jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai terasa sesak. Dadaku seolah memompa udara pada kelep yang tertutup, berat. Lalu, rongga dadaku kembali bergejolak seperti ada yang mengetuk gendang kerasa di sana.  Kupandangi sekeliling. Manusia, tembok dan langit seakan tampak serupa, datar dan putih. Aku ingin beranjak sebentar saja dari rasa sakit yang muncul dari perutku. Serta aku ingin menghirup udara dengan tenang dan nyaman. Sekilas aku mendengar suara kicau burung, sama...

Bahagia untuk Hati yang Terluka

 menggiringnya keruangan. Menepuk pundaknya dengan halus, mencoba memberinya ketenangan. Tetapi air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Sambil  terisak ia menyampaikan maaf, lalu giliran air mata kakaknya mulai menetes. Padahal, ia sedari tadi disampingnya menenangkan. Mungkin runtuh juga pertahannya.  Kenapa, tanyaku sambil menatapnya. Kami berriga di ruangan. Lalu, ia mengatakan bahwa ia ingin mundur dari tim. Aku mengangguk, tidak apa jawabku. Pikiranku berkecamuk, apa yang akan datang selanjutnya. Aku teringat kalimat kemarin bahwa, anak-anak ingin mundur juga. Pelan-pelan kusampaikan. Dan,  " Selamat ulang tahun kami ucapakan... "  Pintu terbuka dan sekelompok anak-anak datang membawa kue dengan lima lilin di atasnya. Sontak aku terkejut, tak terbendung air mataku mengalir tidak mampu kutahan. Sambil anak-anak menyelesaikan nyanyiannya aku terisak.  Beberapa hal tetap mengendap dalam pikiranku, hal lain telah berlalu. Aku masih tidak percaya deng...

Langit Kelabu Pembuka Tabir Pilu

Sedari awal saya sudah memiliki firasat bahwa seseorang akan memberikan pengaruh yang buruk bagi lainnya. Toxic, itulah istilah yang biasanya digunakan. Dia memiliki poker face, didepan saya tampak seperti seseorang yang kooperatif namun menggiring opini teman-temannya untuk melawan.  Saya sedikit kagum dengan cara dia memainkan peran. Menjadi penurut dan seolah bisa dipercaya, padahal ia punya banyak senjata untuk merajam siapapun yang tidak ia inginkan, termasuk saya. Untuk anak usia belasan dengan lingkungan yang homogen, dia bisa berpengaruh begitu besar bagi sejawatnya. Di sisi lain, kecenderungan teman-temannya yang belum matang dalam berpikir mudah baginya untuk menggiring kekuatan.   Akhirnya tiba,saat ia datang membawa segenap peran pongah sementara sehari sebelumnya ia tampak mengakrabkan diri dan merasa intim. Baru kali ini saya memiliki seorang yang memiliki peran licik dan benar-benar mampu menusuk saya dari belakang. Saya kecolongan, ia mengambil celah kekur...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

Kamu Sudah Bekerja Keras

Terbangun dipagi hari, ingatan tentang kalimat ibuku memenuhi pikiranku. Seketika perasaan sedih muncul dan membuat badanku terasa berat. Kuraih ponsel, mencoba mencari informasi yang menarik. Berharap dapat mempolarisasi perasaan negatif di pagi hari.  Sementara jari-jariku bergerak, pikiranku berkelana menuju ingatan malam lalu. Lalu  aku merasa lemah dan hampir tidak punya keinginan untuk bangkit dari tempat tidur. Karena gambar di layar tidak memberi dampak yang kuinginkan. Bahkan aku semakin terlarut dalam perasaan, begitu dalam.  Terngiang dalam ingatanku saat sumpah serapah ibuku menggema di seluruh ruangan. Seolah genting akan runtuh dan tembok akan ambruk. Seisi rumah menjadi bergetar, menggema hebat. Emosinya yang besar begitu menusuk pikiran dan hatiku. Ibuku memang luar biasa berpengaruhnya untuk diriku.  Aku membencinya, ketika ia berkata kasar dan tidak logis. Merengek dan berburuk sangka, apalagi memandang rendah orang lain dengan kalimat-kalimat sinis...

Tidak Ada Kemiskinan yang Abadi

Kendaraan bermotor lalu-lalang bersamaan dengan deru mesin. Ada yang terdengar halus karena menggunakan mesin diesel , atau knalpot dua tax yang menderu memekak telinga. Pemandangan lain tersaji di mataku, kakek penjual gorengan yang asik menggoyangkan adonan, penjual es tapai ketan yang asik memecah balok es batu.  Beberapa lembar rupiah tersemat di kantong celanaku, membuatku sedikit cemas. 

Aku Malas Sekali

Kata Einstein, dingin itu tidak ada, hanya tidak ada energi panas. Gelap itu tidak ada, hanya tidak ada cahaya. Maka bagi saya, tidak ada malas, yang ada adalah tidak ada lagi hasrat di dadamu.  Langit tidak biru, ia hanya memantulkan bias air laut. Angin adalah udara yang bergerak, angin ada karena ada perbedaan energi panas. 

Terima kasih untuk hujan senja ini

Setelah sekian hari aku mengalami sebuh akselerasi kegiatan untuk membunuh waktu, saya menikmati waktu yang berharga sambil menatap rinai hujan. Guratan langit abu-abu menyelimuti pandanganku. Suara hentakan hujan di atas atap baja ringan gaduh. Menyeretku kepada aroma sunyi pikiranku.  Perutku sedikit keroncongan, membuat irama pertama dari dalam tubuhku. Selain itu, sepi tetap terjaga diantara mimpi mimpi dan gairah masa muda. Menyadari bahwa cinta seakan begitu jauh dari pandanganku membuatku merasa sedikit menyedihkan. Tanya menyeruak dari pikiranku, untuk apa sebenarnya aku hidup. Sesekali aku ingin menjadi penolong bagi orang lain, bersamaan dengan hal itu, saya sadar bahwa saya tengah berada di tepian jurang.  Lalu kuarahkan pandanganku kepada mataku. Sinarnya biru penuh sesak oleh air mata yang tertahan. Kudapati kerutan usia nampak memenuhi sekitar kelopak mataku, tampak lingkaran hitam seperti melukiskan resah yang tidak pernah usai. Seketika aku teringat...

Putus Asa

Saya pikir sudah bekerja keras. Namun ternyata belum mampu menghadirkan senyum bagi orang-orang yang kucintai. Tak mampu menyembuhkan luka mereka, tak bisa menghapus air matanya, atau sekadar mengusap peluh di keningya. 

Senja di atas Pucuk Merah

Langit kelabu membuyarkan langkah senja. Jingga tidak menunjukkan bentuknya di ufuk barat. Tetapi sunyi datang bersama sendu yang kian tajam menancap di dadaku, menjelma sesak daan getar bersamaan.  Aku (sekali lagi) tidak tahu apa yang tengah terjadi. Bukan begitu maksudku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jatuh pada tempat yang sama namun masih tidak tahu harus berbuat apa. Hati adalah sebentuk percik kebingungan dan kekhawatiran.  Aku merasa sedih banwa aku tidak begitu pandai bersikap. Entah harus meenerimanya atau menikmatinya, atau barangkali mengabaikannya. Tuhan, kenapa begini. Rasanya begitu sulit. Apa yang harus aku lakukan?. Menikmatinya, mangabaikannya.  Lalu pucuk-pucuk merak tetap tenang. Ia hanya bergoyang saat angin bertiup. Ia menengadah menerima pucuk-pucuk rindu yang kian surut, melonjak menuju buku hati yang rapuh nan gersang. Tuhan, aku harus bagaimana?,

Waktu

Saya pikir waktu akan semakin cepat datang. Panas di ounggungki, dingin di telapak kaki dan tanganku, sementara lidahku terasa kering kesat. Energi dintubuhku rasanya saangat sedikit. Tidak ada gairah dan semangat. Aku ingin merbahkan tubuhku di atas kasur yang empuk nan hangat. Kematian terindah adalah saat diiringi mendung dan rinai gerimis di udara. 

Segelas Es Kopi Susu Instan

Segelas es kopi susu instan terhidang di atas meja. Sebenarnya, dinamai Capuccino , sajian kopi ala Italia dengan komposisi satu pertiga espresso dan dua pertiga krim susu. Meskipun ia tidak sesuai standar ala Italiano. Seduhan kopi instan, krim nabati atau pati, dan gula pasir. Bagi orang-orang, itu bukaa n persoalan. Sebab, persoalan terpenting hari ini adalah agar perut bisa kenyang terisi makanan, dahaga hilang, dan bau mulut tanda asam lambung meningkat tidak tercium. Setidaknya, selain Tuhan yang berkehendak, kami tidak mati hari ini karena kelaparan. Padahal, saya tahu benar setiap sudut jagad ini tersimpan seonggok daging bernyawa, tanpa kehidupan.  Tubuh itu menghirup udara di sekitarnya dengan memburu. Di atas tanah yang ia pijak terukir tapak-tapak kehidupan tanpa harapan. Jelas tergambar di atas tanah kering saat kemarau, dan berlumpur saat hujan datang. Ia menjatuhkan bulir-bulir  keringat yang asin penuh racun. Sama dengan tai dan kencing yang ia keluarkan. Tidak...

Dingin Menusuk Tulang

Aku terbangun setelah matahari terbit. Hawa dingin kurasakan menggetarkan tubuh. Aku kembali meringkuk, kutarik selimut, kubenamkan tubuhku di bawahnya. Aku merasa tidak ada yang harus disambut. Aku sungguh ingin tidur lebih lama lagi.  Dadaku terasa beku, nyaris tidak kurasakan detak jantungku. ' Yang kau takutkan takkan terjadi', kata Kunto Aji dari lagu yang kudengarkan. Setidaknya kalimat itu sedikit menghiburku. Aku ketakukan dan cemas. Jika semua orang membenciku, apa yang harus kulakukan?. Jika nyaris tidak ada satupun orang tidak percaya padaku, apakah aku bisa bertahan. Aku merasa sudah sangat kesepian dan hampa. Lalu bagaimana jika dunia menghukumku, tidak menerimaku?. Aku hampir tidak punya keberania bahkan hanya untuk beranjak dari tempat tidurku. Tuhan, aku ketakutan. Apakah aku jadi orang yang terbuang, orang yang gagal, dan tidak pernah mendapat cinta. Jika demikian, ijinkan aku, sungguh tolong aku. Setidaknya beri aku cinta di hatiku, perasaan mencintai yang tul...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...