Segelas es kopi susu instan terhidang di atas meja. Sebenarnya, dinamai Capuccino, sajian kopi ala Italia dengan komposisi satu pertiga espresso dan dua pertiga krim susu. Meskipun ia tidak sesuai standar ala Italiano. Seduhan kopi instan, krim nabati atau pati, dan gula pasir. Bagi orang-orang, itu bukaa
n persoalan. Sebab, persoalan terpenting hari ini adalah agar perut bisa kenyang terisi makanan, dahaga hilang, dan bau mulut tanda asam lambung meningkat tidak tercium. Setidaknya, selain Tuhan yang berkehendak, kami tidak mati hari ini karena kelaparan. Padahal, saya tahu benar setiap sudut jagad ini tersimpan seonggok daging bernyawa, tanpa kehidupan.
Tubuh itu menghirup udara di sekitarnya dengan memburu. Di atas tanah yang ia pijak terukir tapak-tapak kehidupan tanpa harapan. Jelas tergambar di atas tanah kering saat kemarau, dan berlumpur saat hujan datang. Ia menjatuhkan bulir-bulir keringat yang asin penuh racun. Sama dengan tai dan kencing yang ia keluarkan. Tidak padat, hanya membuat mulas dan keram otot perutnya dan terlalu pesing karena racun di tubuhnya. Tidak masalah, sebab yang ia makan adalah suguhan yang bisa masuk ke dalam mulutnya. Meskipun, digoreng minyak jelantah kehitaman, bahan mentah hampir busuk diolah dengan tangan-tangan kehitaman oleh asap jelaga.
Tidak ada yang lebih pantas dimaki selain kehidupan itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar