Langsung ke konten utama

Segelas Es Kopi Susu Instan

Segelas es kopi susu instan terhidang di atas meja. Sebenarnya, dinamai Capuccino, sajian kopi ala Italia dengan komposisi satu pertiga espresso dan dua pertiga krim susu. Meskipun ia tidak sesuai standar ala Italiano. Seduhan kopi instan, krim nabati atau pati, dan gula pasir. Bagi orang-orang, itu bukaa
n persoalan. Sebab, persoalan terpenting hari ini adalah agar perut bisa kenyang terisi makanan, dahaga hilang, dan bau mulut tanda asam lambung meningkat tidak tercium. Setidaknya, selain Tuhan yang berkehendak, kami tidak mati hari ini karena kelaparan. Padahal, saya tahu benar setiap sudut jagad ini tersimpan seonggok daging bernyawa, tanpa kehidupan. 

Tubuh itu menghirup udara di sekitarnya dengan memburu. Di atas tanah yang ia pijak terukir tapak-tapak kehidupan tanpa harapan. Jelas tergambar di atas tanah kering saat kemarau, dan berlumpur saat hujan datang. Ia menjatuhkan bulir-bulir  keringat yang asin penuh racun. Sama dengan tai dan kencing yang ia keluarkan. Tidak padat, hanya membuat mulas dan keram otot perutnya dan terlalu pesing karena racun di tubuhnya. Tidak masalah, sebab yang ia makan adalah suguhan yang bisa masuk ke dalam mulutnya. Meskipun, digoreng minyak jelantah kehitaman, bahan mentah hampir busuk diolah dengan tangan-tangan kehitaman oleh asap jelaga. 

Tidak ada yang lebih pantas dimaki selain kehidupan itu sendiri. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...