Sesaat setelah hujan reda, ia akan merasa kesepian. Tidak ada cerita yang bisa ia dengarkan. Tidak ada air mata yang bisa ia saksikan. Tidak akan terasa hangat jiwa yang kesepian. Tidak ada lelah yaang bersandar padanya. Tidak ada kesedihan yang menjadi penguninya. Ia, bangku taman dingin kesepian.
Ia berharap cuaca segera membaik. Saat langit cerah, dahan pohon Mahoni yang rimbun menjadikannya tempat sempurna. Tawa riang akan tetap terdengar dari hiruk pikuk manusia yang memekak kepala. Sesekali kali kecemasan data dari dada seorang perindu, hanya sesaat, setelah temu menjadikannya angin segar musim penghujan.
Saat gelap datang, gugusan bintang beranjak datang. Ada seseorang yang rela membuat pola membentuk harapan. Meskipun ia ikut merasakan nafas panjang menghela, bahwa hari ini tetap terasa berat. Ia menjadi sakssi sebuah senyum tanpa tawa dan kesedihan tanpa air mata. Ia menerka, manusia memang serumit itu.
Penghujung November yang sunyi pada dua ouluh satu tahun milenial baru
Komentar
Posting Komentar