Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.
Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.
Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa antara Mok hae Won celloist yang jengah dengan kehidupan di kota besar (Seoul) lalu kembali ke kampung halaman Ibunya-tempat di mana ia juga menghabiskan masa remajanya dengan Lim oen soeb, lelaki pemilik toku buku Good night yang juga merupakan teman sekolah yang ternyata menyimpan perasaan sejak lama.
Penggambaran tokoh utama memiliki karakter yang kuat. Latar belakang kisah dan juga kisah yang mereka hadapi menjadikan sebuah perjalanan menemukan makna hidup, dan cinta yang penuh makna. Meskipun kisah berporos pada kedua tokoh utama, namun pemeran pendukung juga memiliki karakter yang tak kalah kuat.
Berseting alam pedesaan menyuguhkan cinematografi yang apik. Sudut pengambilan gambar, serta adegan dengan dialog yang penuh makna menjadi alasan utama mengapa drama serial ini layak untuk ditonton.
Komentar
Posting Komentar