Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

MENDEKAT

Aku dibunuh kekejianku sendiri dalam beberapa waktu, Saat detik waktu mulai membantai membantai nuraniku Seraya menatap luka-luka penuh pilu dengan senyum Teriris kabut kerinduan dalam jiwa yang menjauh Aku menunggumu seperti badai dalam hari yang tak kunjung hujan Aku merindukanmu dalam sebuah gutasi embun yang sederhana Aku mempermalukan diri karena luka yang sembuh hanya karena senyummu. Kemarilah cinta, aku bersama air matamu. Akupun ber- iringan menuju tawamu. Sekali lagi, Izinkan aku berada di tempat dijauhnya engkau pergi . . .

KENANGAN BIBIR KERINGMU

 “Rasa kehilangan pasti akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya . . .” -Letto Mendengung dan seolah tak mati, syair terpahat perlahan dalam hatiku. Seraya terlintas bayanganmu, aku berusaha mengingat satu-persatu. Tak butuh waktu lama memang, tapi hanya terlintas beberapa frame saja. Saat tanganmu yang kecoklatan itu begitu mesra menyambutku. Fokus rekaman itu bergoyang sedikit. Iya, aku sedikit tertatih. Dan kualihkan ke atas, tepat diwajahmu aku mendapati senyumanmu. Dengan deretan gigi rata yang tangguh, dan bibir yang menghitam kering itu. Tapi begitu memancar, merekah bibirmu itu tanpa kata. Kudaratkan segera keningku diwajahmu, namun hanya mencapai janggutmu yang kasar ditumbuhi rambut. Tanganku menggeanggam lehermu yang masih licin karena keringat yang baru kau usap. Kemudian pipiku yang lembut bergoyang kenyal saat menyambut tulang pipimu yang keras. Aku tertawa, karena aku begitu mengenali tekstur pelipismu yang halus. Satu-satunya yang paling halus ketika kus...