Awan putih berarak menghiasi langit biru. Hari yang cerah. Udara yang segar menyelinap diantara tawa-tawa masa muda. Bunga-bunga liar tumbuh, serupa hasrat di dada. Sementara, percakapan tumbuh diantara pikiran-pikiran yaang ranum. Tidak apa, sambil kunikmati asam manisnya perasaan yang berhulu di dada.
Sementara aku, rasanya semangatku serupa dahan pohon asam yang penuh urat kuat. Tetapi semua orang tahu bahwa di dalamnya kosong melompongbtak bernyawa. Seperti batang tua yang rapuh, tidak sedjumput tunas yang mampu tumbuh. Tanah di sekelilingku seperti tandusnya pikiran dan hasrat hidupku. Kubiarkan air mata menganak sungai. Berharap menjagaku agar hidupku baik-baik saja.
Tuhan, di hadapanku langit tetaplah kelabu. Sebab, setiap detik langkahku sembab oleh mimpi-mimpi yaang pudar. Lukisan kehidupan selalu tampak buram bagi pikiranku. Sebab, dadaku diaemai rasa benci yang sedekian kuat. Tidak berdaya akarnya menancap di dadaku, membuatnya terasa sesak bagi nafasku.
Jantungku berdetak. Nafasku tumbuh. Ujung rambutku bergejolak. Tidak dengan pikiranku.
Komentar
Posting Komentar