Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Selembut Awan Putih

Belakangan keresahan dan kebimbangan datang menghampiri. Saya lapar, tetapi tidak ingin makan ini tetapi ingin makan itu. Lalu khawatir makanan itu akan membuat kesehatan memburuk. Tidak juga, kadangkala karena khawatir hanya akan mengikuti hawa nafsu semata dengan makan itu lalu nanti menyesal. Bisa juga karena. Huek, belum selesai kalimat pikiranku aku sudah mual.  Perutku terasa tidak nyaman. Seperti ada semacam balon kecil memenuhi lambungku. Perlahan akan naik keatas menusuk ulu hatiku. Membuat detak jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai terasa sesak. Dadaku seolah memompa udara pada kelep yang tertutup, berat. Lalu, rongga dadaku kembali bergejolak seperti ada yang mengetuk gendang kerasa di sana.  Kupandangi sekeliling. Manusia, tembok dan langit seakan tampak serupa, datar dan putih. Aku ingin beranjak sebentar saja dari rasa sakit yang muncul dari perutku. Serta aku ingin menghirup udara dengan tenang dan nyaman. Sekilas aku mendengar suara kicau burung, sama...

Bahagia untuk Hati yang Terluka

 menggiringnya keruangan. Menepuk pundaknya dengan halus, mencoba memberinya ketenangan. Tetapi air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Sambil  terisak ia menyampaikan maaf, lalu giliran air mata kakaknya mulai menetes. Padahal, ia sedari tadi disampingnya menenangkan. Mungkin runtuh juga pertahannya.  Kenapa, tanyaku sambil menatapnya. Kami berriga di ruangan. Lalu, ia mengatakan bahwa ia ingin mundur dari tim. Aku mengangguk, tidak apa jawabku. Pikiranku berkecamuk, apa yang akan datang selanjutnya. Aku teringat kalimat kemarin bahwa, anak-anak ingin mundur juga. Pelan-pelan kusampaikan. Dan,  " Selamat ulang tahun kami ucapakan... "  Pintu terbuka dan sekelompok anak-anak datang membawa kue dengan lima lilin di atasnya. Sontak aku terkejut, tak terbendung air mataku mengalir tidak mampu kutahan. Sambil anak-anak menyelesaikan nyanyiannya aku terisak.  Beberapa hal tetap mengendap dalam pikiranku, hal lain telah berlalu. Aku masih tidak percaya deng...

Langit Kelabu Pembuka Tabir Pilu

Sedari awal saya sudah memiliki firasat bahwa seseorang akan memberikan pengaruh yang buruk bagi lainnya. Toxic, itulah istilah yang biasanya digunakan. Dia memiliki poker face, didepan saya tampak seperti seseorang yang kooperatif namun menggiring opini teman-temannya untuk melawan.  Saya sedikit kagum dengan cara dia memainkan peran. Menjadi penurut dan seolah bisa dipercaya, padahal ia punya banyak senjata untuk merajam siapapun yang tidak ia inginkan, termasuk saya. Untuk anak usia belasan dengan lingkungan yang homogen, dia bisa berpengaruh begitu besar bagi sejawatnya. Di sisi lain, kecenderungan teman-temannya yang belum matang dalam berpikir mudah baginya untuk menggiring kekuatan.   Akhirnya tiba,saat ia datang membawa segenap peran pongah sementara sehari sebelumnya ia tampak mengakrabkan diri dan merasa intim. Baru kali ini saya memiliki seorang yang memiliki peran licik dan benar-benar mampu menusuk saya dari belakang. Saya kecolongan, ia mengambil celah kekur...