Akarnya tumbuh di dalam tanah kering diguyur hujan semalam. Pucuk-pucuk daun tumbuh, mengajak kuncup bunga menari bersama kupu-kupu dan capung. Merekah, melambai, berderu bersama angin segar musim penghujan. Indah.
Sementara ia hanya sendiri, berkumpul dengan teman-temannya. Tanaman lain tidak mampu tumbuh di sekitarnya. Ia menebar kharisma yang kuat, tidak mampu didekati oleh orang si sekelilingnya. Kadangkala, ada yaang tumbuh bersamanya namun tidak butuh waktu lama, karena alelopati. Akarnya terallu kuat menjerat dirinya sendiri. Orang lain di sekelililangnya akan tumbang, karena merasa akarnya tidak terlalu dalam.
Sering kudapati bunga menangis di tengah malam. Di bawah langit malam berbintang yang indah, air matanya nya adalah ironi. Sementara angin bertiup pelan menggiyangkan dedaunan, suaranya lirih penuh pilu. Ia bersedih, karena menikmati malam dingin yang panjang, sendirian. Bunga-bunganya yang indah menutup diri, menguncup menggigip sendirian.
Saat hujan turun di malam hari, ia akan sesikit bahagia. Sebab, tubuhnya terbiasa berkawan dengan air mata. Air hujan baginya adalah pembasuh dari sekian luka yang ia dapat saat terinjak, terserabut, dan terabaikan.
Sabtu, dua puluh enam November dua ribu dua puluh satu
Komentar
Posting Komentar