Aku tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Benar, biar saja segala adegan dalam pandanganku terus menerus bergulir. Aku- jiwaku lebih menyukai scene yang tengah aku lewati, satu scene saja tidak usah berubah. Dalam adegannya aku hanya perlu diam, hanya ingin diam. Lalu angin dan hujan menari lebih deras dalam pandaganku, dan kubiarkan saja. Tik, tik, tik . . .sore itu gerimis lihai mengajakku memburu kenangan. Tapi aku enggan menurutinya, kubiarkan langkahku tak bergerak. Hanya dalam diamku, hanya dalam inginku. Do, do, do, so . . . tiba-tiba suara rintik mlemparkan nada yang berbeda. aku menoleh sejenak, mengikuti nada langkahnya. Ada apa ini? bukankan nada-mu adalah tik, tik, tik ? lalu kenapa sekarang do, do, do, so? Eh tidak kali ini do, so, fa, mi, do. Aku menggelengkan kepalaku berusaha mengusir hayalan ini. ternyata tidak berhasil, yang benar saja. Sejak kapan gerimis lebih lihai dari pianis, berani memainkan ketepatan nadanya. Aku melongok keluar jendela, menyeb...