Memacu
sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin
membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari
separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan.
Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya
perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan
sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia
berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut
dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki
masker.
Kuantar
ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik
dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh,
demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus
kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan
kecilnya begitu lembut berpegang di pinggangku. Membuatku tidak tenang. Bebebrapa
kali tangan kiriku memastikan dua pasang tangan mungil itu mencengkeram bajuku.
Sambil berdoa meminta perlindungan aku memastikan motorku kembali ke rumah
beserta kami bertiga. Pagi dingin yang menegangkan!.
Komentar
Posting Komentar