Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Bangku Taman

Sesaat setelah hujan reda, ia akan merasa kesepian. Tidak ada cerita yang bisa ia dengarkan. Tidak ada air mata yang bisa ia saksikan. Tidak akan terasa hangat  jiwa yang kesepian. Tidak ada lelah yaang bersandar padanya. Tidak ada kesedihan yang menjadi penguninya. Ia, bangku taman dingin kesepian.  Ia berharap cuaca segera membaik. Saat langit cerah, dahan pohon Mahoni yang rimbun menjadikannya tempat sempurna. Tawa riang akan tetap terdengar dari hiruk pikuk manusia yang memekak kepala. Sesekali kali kecemasan data dari dada seorang perindu, hanya sesaat, setelah temu menjadikannya angin segar musim penghujan.  Saat gelap datang, gugusan bintang beranjak datang. Ada seseorang yang rela membuat pola membentuk harapan. Meskipun ia ikut merasakan nafas panjang menghela, bahwa hari ini tetap terasa berat. Ia menjadi sakssi sebuah senyum tanpa tawa dan kesedihan tanpa air mata. Ia menerka, manusia memang serumit itu.  Penghujung November yang sunyi pada dua...

Awan Putih

Awan putih berarak menghiasi langit biru. Hari yang cerah. Udara yang segar menyelinap diantara tawa-tawa masa muda. Bunga-bunga liar tumbuh, serupa hasrat di dada. Sementara, percakapan tumbuh diantara pikiran-pikiran yaang ranum. Tidak apa, sambil kunikmati asam manisnya perasaan yang berhulu di dada.  Sementara aku, rasanya semangatku serupa dahan pohon asam yang penuh urat kuat. Tetapi semua orang tahu bahwa di dalamnya kosong melompongbtak bernyawa. Seperti batang tua yang rapuh, tidak sedjumput tunas yang mampu tumbuh. Tanah di sekelilingku seperti tandusnya pikiran dan hasrat hidupku. Kubiarkan air mata menganak sungai. Berharap menjagaku agar hidupku baik-baik saja.  Tuhan, di hadapanku langit tetaplah kelabu. Sebab, setiap detik langkahku sembab oleh mimpi-mimpi yaang pudar. Lukisan kehidupan selalu tampak buram bagi pikiranku. Sebab, dadaku diaemai rasa benci yang sedekian kuat. Tidak berdaya akarnya menancap di dadaku, membuatnya terasa sesak bagi nafask...

Bunga Liar

Akarnya tumbuh di dalam tanah kering diguyur hujan semalam. Pucuk-pucuk daun tumbuh, mengajak kuncup bunga menari bersama kupu-kupu dan capung. Merekah, melambai, berderu bersama angin segar musim penghujan. Indah.  Sementara ia hanya sendiri, berkumpul dengan teman-temannya. Tanaman lain tidak mampu tumbuh di sekitarnya. Ia menebar kharisma yang kuat, tidak mampu didekati oleh orang si sekelilingnya. Kadangkala, ada yaang tumbuh bersamanya namun tidak butuh waktu lama, karena alelopati. Akarnya terallu kuat menjerat dirinya sendiri. Orang lain di sekelililangnya akan tumbang, karena merasa akarnya tidak terlalu dalam.  Sering kudapati bunga menangis di tengah malam. Di bawah langit malam berbintang yang indah, air matanya nya adalah ironi. Sementara angin bertiup pelan menggiyangkan dedaunan, suaranya lirih penuh pilu. Ia bersedih, karena menikmati malam dingin yang panjang, sendirian. Bunga-bunganya yang indah menutup diri, menguncup menggigip sendirian.  Sa...

Kepik

Sehari serasa tidak cukup untuk membuat harapan-harapanmu terwujud. Mendengarkan suara di sekelilingmu lalu menyimpannya di dadamu. Seketika ruangan yang lengang menjadi riuh oleh keramaian di dadaku. Membuatnya terasa berat dan melelahkan. Lepaskan.  Kamu sudah mepakukan yang terbaik. Mendengar suara hatimu, merangkainya sedemikian indah, lalu mengungkapkannya dalam baris-baris puisi. Saat penyair membacanya, energi yang kau titipkan menjelma gelombang-gelombang. Menggetarkan dada yang beku. Lalu, Gletser itu menganak sungai menjelma air mata.  Berterima kasihlah pada waktu yang berputar tidak berhenti. Ia menuntun perasaanmu tumbuh menjadi kenangan. Lalu tumbuh menjadi bunga-bunga kerinduan saat rinai kesepian turun dari langit. Mungkin sesekali ia akan kering oleh angin dan badai yang menghantam pikiranmu. Namun, benih-benih cinta akan senantiasa mengakar di dalam jiwamu.  Lalu, jika ada air mata jatuh di atas senyumanmu. Maka bersiaplah suguhkan embun-embu...