Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Terima kasih untuk hujan senja ini

Setelah sekian hari aku mengalami sebuh akselerasi kegiatan untuk membunuh waktu, saya menikmati waktu yang berharga sambil menatap rinai hujan. Guratan langit abu-abu menyelimuti pandanganku. Suara hentakan hujan di atas atap baja ringan gaduh. Menyeretku kepada aroma sunyi pikiranku.  Perutku sedikit keroncongan, membuat irama pertama dari dalam tubuhku. Selain itu, sepi tetap terjaga diantara mimpi mimpi dan gairah masa muda. Menyadari bahwa cinta seakan begitu jauh dari pandanganku membuatku merasa sedikit menyedihkan. Tanya menyeruak dari pikiranku, untuk apa sebenarnya aku hidup. Sesekali aku ingin menjadi penolong bagi orang lain, bersamaan dengan hal itu, saya sadar bahwa saya tengah berada di tepian jurang.  Lalu kuarahkan pandanganku kepada mataku. Sinarnya biru penuh sesak oleh air mata yang tertahan. Kudapati kerutan usia nampak memenuhi sekitar kelopak mataku, tampak lingkaran hitam seperti melukiskan resah yang tidak pernah usai. Seketika aku teringat...

Putus Asa

Saya pikir sudah bekerja keras. Namun ternyata belum mampu menghadirkan senyum bagi orang-orang yang kucintai. Tak mampu menyembuhkan luka mereka, tak bisa menghapus air matanya, atau sekadar mengusap peluh di keningya. 

Senja di atas Pucuk Merah

Langit kelabu membuyarkan langkah senja. Jingga tidak menunjukkan bentuknya di ufuk barat. Tetapi sunyi datang bersama sendu yang kian tajam menancap di dadaku, menjelma sesak daan getar bersamaan.  Aku (sekali lagi) tidak tahu apa yang tengah terjadi. Bukan begitu maksudku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jatuh pada tempat yang sama namun masih tidak tahu harus berbuat apa. Hati adalah sebentuk percik kebingungan dan kekhawatiran.  Aku merasa sedih banwa aku tidak begitu pandai bersikap. Entah harus meenerimanya atau menikmatinya, atau barangkali mengabaikannya. Tuhan, kenapa begini. Rasanya begitu sulit. Apa yang harus aku lakukan?. Menikmatinya, mangabaikannya.  Lalu pucuk-pucuk merak tetap tenang. Ia hanya bergoyang saat angin bertiup. Ia menengadah menerima pucuk-pucuk rindu yang kian surut, melonjak menuju buku hati yang rapuh nan gersang. Tuhan, aku harus bagaimana?,