Setelah sekian hari aku mengalami sebuh akselerasi kegiatan untuk membunuh waktu, saya menikmati waktu yang berharga sambil menatap rinai hujan. Guratan langit abu-abu menyelimuti pandanganku. Suara hentakan hujan di atas atap baja ringan gaduh. Menyeretku kepada aroma sunyi pikiranku. Perutku sedikit keroncongan, membuat irama pertama dari dalam tubuhku. Selain itu, sepi tetap terjaga diantara mimpi mimpi dan gairah masa muda. Menyadari bahwa cinta seakan begitu jauh dari pandanganku membuatku merasa sedikit menyedihkan. Tanya menyeruak dari pikiranku, untuk apa sebenarnya aku hidup. Sesekali aku ingin menjadi penolong bagi orang lain, bersamaan dengan hal itu, saya sadar bahwa saya tengah berada di tepian jurang. Lalu kuarahkan pandanganku kepada mataku. Sinarnya biru penuh sesak oleh air mata yang tertahan. Kudapati kerutan usia nampak memenuhi sekitar kelopak mataku, tampak lingkaran hitam seperti melukiskan resah yang tidak pernah usai. Seketika aku teringat...