Langit kelabu membuyarkan langkah senja. Jingga tidak menunjukkan bentuknya di ufuk barat. Tetapi sunyi datang bersama sendu yang kian tajam menancap di dadaku, menjelma sesak daan getar bersamaan.
Aku (sekali lagi) tidak tahu apa yang tengah terjadi. Bukan begitu maksudku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jatuh pada tempat yang sama namun masih tidak tahu harus berbuat apa. Hati adalah sebentuk percik kebingungan dan kekhawatiran.
Aku merasa sedih banwa aku tidak begitu pandai bersikap. Entah harus meenerimanya atau menikmatinya, atau barangkali mengabaikannya. Tuhan, kenapa begini. Rasanya begitu sulit. Apa yang harus aku lakukan?. Menikmatinya, mangabaikannya.
Lalu pucuk-pucuk merak tetap tenang. Ia hanya bergoyang saat angin bertiup. Ia menengadah menerima pucuk-pucuk rindu yang kian surut, melonjak menuju buku hati yang rapuh nan gersang. Tuhan, aku harus bagaimana?,
Komentar
Posting Komentar