Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020
gengan air muncul di jalanan seketika saat hujan berhenti. rinai hujan tampak di udara menciptakan titik-titik gelombang di atas permukaannya. menjelang matahari terbenam, hujan benar-benar berhenti. manusia-manusia mulai muncul melalui beranda rumah. lalu terciptanya percakapan sore hari yang sendu. sesekali tawa dan tangis anak-anak memecah keheningan. mereka mungkin ingin turun ke jalanan, 
Saat ini gejala religiusitas tengah melanda masyarakat. Apapun persoalannya pasti diukur dengan kacamata agama. Norma agama, saat saya sekolah dasar adalah aturan yang tidak mengikat yang berlaku pada masyarakat. Saat ini, definisi tersebut mengalami peyorasi. Sebab, agama saat ini bisa menjadi legitimasi hukum terhadap tindakan apapun.  Kejadian penusukan seorang ulama yang tengah melakukan ceramah di masa pandemi membuat geger jagat maya. Segala macam spekulai terhadap kejadian tersebut mengemuka. Dari penjelasan dari pihak berwenang sampai ribuan opini pribadi di media sosial muncul. Sebagian besar menurut pengamatan penulis sudut pandangnya melalui agama, perlindungan ulama atau penistaan agama.  Jika kita tilik lebih seksama tentang kejadian tersebut. Pertama pengajian yang dilakukan saat pandemi minim protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan mengenakkan masker. Kenapa hal tersebut penting, sebab mengumpulkan massa dalam jumlah besar di tempat terbuka tanpa menghiraukan...

Healing My Anxiety

 Beberapa waktu belakangan saya merasakan kecemasan terhadap keputusan saya. keputusan yang melibatkan orang lain dalam hidup saya. sisi lain saya mendapatkan pelecehan terhadap hak prifasi hidup saya. sayapun ketakutan hal-hal siang akan mengiringi hidup saya. say atakut kena tula dan sebagainya. akan tetapi jelas dalam prinsip saya bahwa, utamakn yang penting dibandingkan genting. saya sudah mengambil keputusan dengan pertimbangan karena saya memutuskan itu, atas kehendak saya sendiri. secaa sadar dan logis. tetapi justru melahirkan ketakutan-ketakutan tidak mendasar yang menyertai pikiran saya, lebih dari itu. keresahan batin menjadi alsan saya untuk berpikir bahwa oang lain menggunakan cara yang tidak-tidak terhadap diri saya.  hal yang paling krusial karena semua energi saya eperti terkuras habis oleh kecemasan ini. 

Kucing hitam dalam mobil Leni centil mondar-mandir

Saat ini berada di Kapolresta. Waktu menunjukan pukul sepuluh lebih empat puluh tiga menit. Di ruang tunggu Satpas Satlantas Polres Cirebon Kota. Ruangan sejuk dengan pendingin ruangan. Pandanganku berkeliling, menemukan ruang menyusui dan arena bermain anak. Seorang Polisi wanita tengah hamil melayani dengan ramah. Seragam coklatnya tampak dimodifikasi menyesuaikan bentuk tubuhnya. Terbesit pertanyaan, berapa lama ia mendapatkan cuti hamil dan melahirkan. Mengingat cutui hamil dan melahirkan di tempatku bekerja tidak sesuai dengan UU tenaga kerja. Persoalana paling mendasar bagi masyarakat Indonesia adalah keberanian untuk bersuara terhadap hak-haknya. Betul kewajiban juga tidak luput. Hak dan kewajiban haruslah sejalan. Hak saya sebagai pekerja akan dipenuhi oleh pemegang kebijakan, hak saya adalah kewabian mereka. Kewajiban saya sebagai seorang guru bertanggung jawab atas pendidikan anak didik, menaati peraturan serta bekerja sesuai kontrak. Sangat dilematis jika kesadaran ini tida...

Quarter Crisis of My Life

Krisis dalam kehidupan yang saya alami adalah di usia 18 tahun, 25 tahun, dan 32 tahun. Ketiga fase ini kebetulan berjenjang 7 tahun. Sebelum itu, saya juga sadar sebelum itu saya mengalami krisis. Ya, di usia 11 tahun.  Beranjak dari usia anak-anak menuju dewasa, orang tua saya bercerai. Konflik panjang dimulai-sampai sekarang belum selesai. Pertengkaran disertai kekerasan, kebencian, dan dendam mengawali krisis pertama dalam hidup. Ayah, yang saat itu menjadi tumpuan utama pergi meninggalkan keluarga. Saya sempat mencari beliau, bahkan meminta beliau kembali. Namun, tidak berhasil. Peristiwa ini mengawali sederet mimpi buruk-saya sempat berpikir- tidak berkesudahan.  Sampai pada usia lulus sekolah saya mengalami krisis kepercayaan terhadap orang tua. Pola pikir mulai terbangun, jati diri berusaha diraih. Nyatanya menggiring saya menuju realitas kehidupan yang lebih pahit dan mencengangkan. Keluarga saya, merupakan prioritas bagi menjadi persoalan nyat...

Pikiran dan Pangkal Segala Hal

Judul di atas mungkin dianggap berlebhihan bagi sebagian kalangan. Tetapi tidak bagi saya yang menganut faham bahwa semua berawal dari pikiran kita (mind). Pikiran bisa memengaruhi hidup seseorang. Bagaimana pikiran positif bisa memacu energi, kemudian energi itu mampu menyelesaikan persoalan sehari-hari.  Mungkin akan sulit diterima. Tetapi saya mencoba untuk menggambarkan bahwa pikiran merupakan sumber energi yang penting dan berpengaruh. Misalnya, si A dan si B, keduanya memulai hari dengan cara berbeda. Si A terlambat bangun, sesaat ia  terkejut, namun setelah mengembalikan energinya menjadi positif ia akan menerima kesalahannya, karena terlambat datang ke kantor. Tetapi, karena ada keyakinan bahwa tidak apa-apa melakukan satu kesalahan lalu dihadapi, ia memiliki keyakinan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. 

KALA HUJAN

            Hujan, mendung yang bertumpuk di barat laut serta merta terurai menjadi rintik air. Dalam sekejap, suara bergemuruh disertai gelegar yang seolah membelah langit yang tak tampak lagi guratannya. Aku melihat keluar jendela, menyibak gorden yang menutupi  jendela. Kutempelkan pipiku di tralis besi yang dingin. Lalu, kunikmati tarian air yang terjun dari atas. Entah, hujan kali ini seperti penghapus rindu. Mengurai resah karena harapan yang terlalu tinggi.             Kuhembuskan nafas dalam-dalam, serta merta tergerak bahuku. Ah, mungkin karena beban terlalu sibuk kutanam dalam pikiranku. Membiarkannya tumbuh menjadi bibit kecemasan, lalu berkembang menjadi kekhawatiran, tak ayal sampai berbuah ketakutan. entah kenapa pikiranku menjadi ladang yang subur bagi setiap fase-fase derita itu.          ...

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...