Krisis dalam kehidupan yang saya alami adalah di usia 18 tahun, 25 tahun, dan 32 tahun. Ketiga fase ini kebetulan berjenjang 7 tahun. Sebelum itu, saya juga sadar sebelum itu saya mengalami krisis. Ya, di usia 11 tahun. Beranjak dari usia anak-anak menuju dewasa, orang tua saya bercerai. Konflik panjang dimulai-sampai sekarang belum selesai. Pertengkaran disertai kekerasan, kebencian, dan dendam mengawali krisis pertama dalam hidup. Ayah, yang saat itu menjadi tumpuan utama pergi meninggalkan keluarga. Saya sempat mencari beliau, bahkan meminta beliau kembali. Namun, tidak berhasil. Peristiwa ini mengawali sederet mimpi buruk-saya sempat berpikir- tidak berkesudahan. Sampai pada usia lulus sekolah saya mengalami krisis kepercayaan terhadap orang tua. Pola pikir mulai terbangun, jati diri berusaha diraih. Nyatanya menggiring saya menuju realitas kehidupan yang lebih pahit dan mencengangkan. Keluarga saya, merupakan prioritas bagi menjadi persoalan nyat...