Langsung ke konten utama

Langit Kelabu Pembuka Tabir Pilu

Sedari awal saya sudah memiliki firasat bahwa seseorang akan memberikan pengaruh yang buruk bagi lainnya. Toxic, itulah istilah yang biasanya digunakan. Dia memiliki poker face, didepan saya tampak seperti seseorang yang kooperatif namun menggiring opini teman-temannya untuk melawan. 

Saya sedikit kagum dengan cara dia memainkan peran. Menjadi penurut dan seolah bisa dipercaya, padahal ia punya banyak senjata untuk merajam siapapun yang tidak ia inginkan, termasuk saya. Untuk anak usia belasan dengan lingkungan yang homogen, dia bisa berpengaruh begitu besar bagi sejawatnya. Di sisi lain, kecenderungan teman-temannya yang belum matang dalam berpikir mudah baginya untuk menggiring kekuatan. 

 Akhirnya tiba,saat ia datang membawa segenap peran pongah sementara sehari sebelumnya ia tampak mengakrabkan diri dan merasa intim. Baru kali ini saya memiliki seorang yang memiliki peran licik dan benar-benar mampu menusuk saya dari belakang. Saya kecolongan, ia mengambil celah kekurangan saya dengan baik. Lalu, blam!. 

Air mata tidak berhenti menetes, saya merasa seperti benar-benar mendapatkan serangan satu malam. Namun, ditengah kebingungan dan kesedihan itu saya tetap perpijak terhadap satu hal: saya bertanggung jawab penuh atas semua tindakan yang saya lakukan. 

Pantas saja langit tampak kelabu beberapa hari ini, rupanya hujan hendak menemani kesedihanku. Terima kasih Tuhan, membuka tabir ini sehingga saya tahu kenyataan sebenarnya. Meski sedikit pilu, setidaknya saya tahu alasan mengapa langit nampak sendu. 

Di bawah langit abu-abu, Enam September Dua ribu dua puluh satu. 

Marleni

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...