Sedari awal saya sudah memiliki firasat bahwa seseorang akan memberikan pengaruh yang buruk bagi lainnya. Toxic, itulah istilah yang biasanya digunakan. Dia memiliki poker face, didepan saya tampak seperti seseorang yang kooperatif namun menggiring opini teman-temannya untuk melawan.
Saya sedikit kagum dengan cara dia memainkan peran. Menjadi penurut dan seolah bisa dipercaya, padahal ia punya banyak senjata untuk merajam siapapun yang tidak ia inginkan, termasuk saya. Untuk anak usia belasan dengan lingkungan yang homogen, dia bisa berpengaruh begitu besar bagi sejawatnya. Di sisi lain, kecenderungan teman-temannya yang belum matang dalam berpikir mudah baginya untuk menggiring kekuatan.
Akhirnya tiba,saat ia datang membawa segenap peran pongah sementara sehari sebelumnya ia tampak mengakrabkan diri dan merasa intim. Baru kali ini saya memiliki seorang yang memiliki peran licik dan benar-benar mampu menusuk saya dari belakang. Saya kecolongan, ia mengambil celah kekurangan saya dengan baik. Lalu, blam!.
Air mata tidak berhenti menetes, saya merasa seperti benar-benar mendapatkan serangan satu malam. Namun, ditengah kebingungan dan kesedihan itu saya tetap perpijak terhadap satu hal: saya bertanggung jawab penuh atas semua tindakan yang saya lakukan.
Pantas saja langit tampak kelabu beberapa hari ini, rupanya hujan hendak menemani kesedihanku. Terima kasih Tuhan, membuka tabir ini sehingga saya tahu kenyataan sebenarnya. Meski sedikit pilu, setidaknya saya tahu alasan mengapa langit nampak sendu.
Di bawah langit abu-abu, Enam September Dua ribu dua puluh satu.
Marleni
Komentar
Posting Komentar