Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Segelas Es Kopi Susu Instan

Segelas es kopi susu instan terhidang di atas meja. Sebenarnya, dinamai Capuccino , sajian kopi ala Italia dengan komposisi satu pertiga espresso dan dua pertiga krim susu. Meskipun ia tidak sesuai standar ala Italiano. Seduhan kopi instan, krim nabati atau pati, dan gula pasir. Bagi orang-orang, itu bukaa n persoalan. Sebab, persoalan terpenting hari ini adalah agar perut bisa kenyang terisi makanan, dahaga hilang, dan bau mulut tanda asam lambung meningkat tidak tercium. Setidaknya, selain Tuhan yang berkehendak, kami tidak mati hari ini karena kelaparan. Padahal, saya tahu benar setiap sudut jagad ini tersimpan seonggok daging bernyawa, tanpa kehidupan.  Tubuh itu menghirup udara di sekitarnya dengan memburu. Di atas tanah yang ia pijak terukir tapak-tapak kehidupan tanpa harapan. Jelas tergambar di atas tanah kering saat kemarau, dan berlumpur saat hujan datang. Ia menjatuhkan bulir-bulir  keringat yang asin penuh racun. Sama dengan tai dan kencing yang ia keluarkan. Tidak...

Dingin Menusuk Tulang

Aku terbangun setelah matahari terbit. Hawa dingin kurasakan menggetarkan tubuh. Aku kembali meringkuk, kutarik selimut, kubenamkan tubuhku di bawahnya. Aku merasa tidak ada yang harus disambut. Aku sungguh ingin tidur lebih lama lagi.  Dadaku terasa beku, nyaris tidak kurasakan detak jantungku. ' Yang kau takutkan takkan terjadi', kata Kunto Aji dari lagu yang kudengarkan. Setidaknya kalimat itu sedikit menghiburku. Aku ketakukan dan cemas. Jika semua orang membenciku, apa yang harus kulakukan?. Jika nyaris tidak ada satupun orang tidak percaya padaku, apakah aku bisa bertahan. Aku merasa sudah sangat kesepian dan hampa. Lalu bagaimana jika dunia menghukumku, tidak menerimaku?. Aku hampir tidak punya keberania bahkan hanya untuk beranjak dari tempat tidurku. Tuhan, aku ketakutan. Apakah aku jadi orang yang terbuang, orang yang gagal, dan tidak pernah mendapat cinta. Jika demikian, ijinkan aku, sungguh tolong aku. Setidaknya beri aku cinta di hatiku, perasaan mencintai yang tul...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...