Belakangan keresahan dan kebimbangan datang menghampiri. Saya lapar, tetapi tidak ingin makan ini tetapi ingin makan itu. Lalu khawatir makanan itu akan membuat kesehatan memburuk. Tidak juga, kadangkala karena khawatir hanya akan mengikuti hawa nafsu semata dengan makan itu lalu nanti menyesal. Bisa juga karena. Huek, belum selesai kalimat pikiranku aku sudah mual.
Perutku terasa tidak nyaman. Seperti ada semacam balon kecil memenuhi lambungku. Perlahan akan naik keatas menusuk ulu hatiku. Membuat detak jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai terasa sesak. Dadaku seolah memompa udara pada kelep yang tertutup, berat. Lalu, rongga dadaku kembali bergejolak seperti ada yang mengetuk gendang kerasa di sana.
Kupandangi sekeliling. Manusia, tembok dan langit seakan tampak serupa, datar dan putih. Aku ingin beranjak sebentar saja dari rasa sakit yang muncul dari perutku. Serta aku ingin menghirup udara dengan tenang dan nyaman. Sekilas aku mendengar suara kicau burung, sama sekali tidak terdengar indah. Hanya saja aku sedikit lega ada sesuatu yang kasat mata yang terasa tidak datar.
Suhu badanku mulai naik. Terasa hawa panas perlahan merayap di punggungku. Lalu pundakku mulai terasa berat dan kaku. Menjalar di kedua lengan, siku, lalu jari-jari tangaku. Tuhan, hal ini terasa tidak nyaman. Aku ingin terbang, ke awan. Membayangkan awan putih yang lembut seperti kapas. Lalu aku akan menyelinap menuju awan yang terasa hangat namun sejuk. Kubayangkan angin sepoi-sepoi menerpa rambutku meniupkannya dengan indah.
Tetapi aku kembali teringat pundakku. Ah, sangat berat dan kaku. Sangat sulit untuk digerakkan. Sementara pikiranku kembali membayangkan betapa lembut dan hangatnya awan putih di atas sana. Kepalaku berat, dadaku semakin sesak, aku tidak ingin berpikir. Aku ingin marah dan berteriak. Berharap rasa sakit dan perasaan tidak nyaman ini pergi. Tapi urung, aku tetap merasa berat dan resah.
Sembilan belas September Dua ribu dua puluh satu

Komentar
Posting Komentar