Langsung ke konten utama

Selembut Awan Putih

Belakangan keresahan dan kebimbangan datang menghampiri. Saya lapar, tetapi tidak ingin makan ini tetapi ingin makan itu. Lalu khawatir makanan itu akan membuat kesehatan memburuk. Tidak juga, kadangkala karena khawatir hanya akan mengikuti hawa nafsu semata dengan makan itu lalu nanti menyesal. Bisa juga karena. Huek, belum selesai kalimat pikiranku aku sudah mual. 

Perutku terasa tidak nyaman. Seperti ada semacam balon kecil memenuhi lambungku. Perlahan akan naik keatas menusuk ulu hatiku. Membuat detak jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai terasa sesak. Dadaku seolah memompa udara pada kelep yang tertutup, berat. Lalu, rongga dadaku kembali bergejolak seperti ada yang mengetuk gendang kerasa di sana. 

Kupandangi sekeliling. Manusia, tembok dan langit seakan tampak serupa, datar dan putih. Aku ingin beranjak sebentar saja dari rasa sakit yang muncul dari perutku. Serta aku ingin menghirup udara dengan tenang dan nyaman. Sekilas aku mendengar suara kicau burung, sama sekali tidak terdengar indah. Hanya saja aku sedikit lega ada sesuatu yang kasat mata yang terasa tidak datar. 


Suhu badanku mulai naik. Terasa hawa panas perlahan merayap di punggungku. Lalu pundakku mulai terasa berat dan kaku. Menjalar di kedua lengan, siku, lalu jari-jari tangaku. Tuhan, hal ini terasa tidak nyaman. Aku ingin terbang, ke awan. Membayangkan awan putih yang lembut seperti kapas. Lalu aku akan menyelinap menuju awan yang terasa hangat namun sejuk. Kubayangkan angin sepoi-sepoi menerpa rambutku meniupkannya dengan indah. 

Tetapi aku kembali teringat pundakku. Ah, sangat berat dan kaku. Sangat sulit untuk digerakkan. Sementara pikiranku kembali membayangkan betapa lembut dan hangatnya awan putih di atas sana. Kepalaku berat, dadaku semakin sesak, aku tidak ingin berpikir. Aku ingin marah dan berteriak. Berharap rasa sakit dan perasaan tidak nyaman ini pergi. Tapi urung, aku tetap merasa berat dan resah. 

Sembilan belas September Dua ribu dua puluh satu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...