Langsung ke konten utama

Bahagia untuk Hati yang Terluka

 menggiringnya keruangan. Menepuk pundaknya dengan halus, mencoba memberinya ketenangan. Tetapi air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Sambil
 terisak ia menyampaikan maaf, lalu giliran air mata kakaknya mulai menetes. Padahal, ia sedari tadi disampingnya menenangkan. Mungkin runtuh juga pertahannya. 

Kenapa, tanyaku sambil menatapnya. Kami berriga di ruangan. Lalu, ia mengatakan bahwa ia ingin mundur dari tim. Aku mengangguk, tidak apa jawabku. Pikiranku berkecamuk, apa yang akan datang selanjutnya. Aku teringat kalimat kemarin bahwa, anak-anak ingin mundur juga. Pelan-pelan kusampaikan. Dan, 

"Selamat ulang tahun kami ucapakan... " 
Pintu terbuka dan sekelompok anak-anak datang membawa kue dengan lima lilin di atasnya. Sontak aku terkejut, tak terbendung air mataku mengalir tidak mampu kutahan. Sambil anak-anak menyelesaikan nyanyiannya aku terisak. 

Beberapa hal tetap mengendap dalam pikiranku, hal lain telah berlalu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kepercayaanku seolah hilang begitu saja. Menguap oleh kemarahan dan tatapan mata menakutkan itu. Masih lekat dalam pikiran tetap hujatan yang dilayangkan kepadaku. Namun, kali ini suara hatiku telah dikuatkan. 

Anak-anak pantas dicintai dan diapresiasi. Aku menyadari bahwa aku membutuhkan energi untuk senantiasa siap dengan sejuta pelukan dan kasih sayang. Saya melihat setiap manusia adil-setara. Setiap orang layak untuk dihargai dan dirawat kebebeasan berpikirnya. Prinsip ini tetap menggantung di dadaku. 

Lalu, hal lain yang membatku begitu sedih kemarin adalah. Rasanya aku malu kepada guruku, beliau telah memberiku tauladan dan cinta kasih. Namun, aku memiliki celah untuk berbuat sesuatu yang jauh dari nilai dan prinsip yang kuukir. Sehingga, aku kembali bertanya dalam hati, 'Apakah aku pantas?'. 

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga. Kesempatan berharga akan kumanfaatkan dengan baik untuk mengoreksi diri. Tetapi ada beberapa hal yang tetap menjadi argumentasku. Satu, aku mengajar dan mendidik dan menjalani pekerjaanku dengan hati. Kupertaruhkan gagasan dan kesadaran berpikir terhadap proses ini, karena memanusiakan manusia adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Lalu, ia keliru perempua  yang mengaku bijaksana itu keliru, bahwa aku tidak dekat dengan orang-orang dan menjalin relasi yang menakutkan dan mengancam. Barangkali terakhir, siapa berhak mengkritik bagaimana caraku menjalani hidup, sementara ia menitipkan tanggung jawabnya kepadaku. Tetapi bahkan ia lupa berterima kasih. 

Jarum jam tangan berdetak. Tulisan brand ternama itu membuatku tersenyum. Ah, mereka pasti tidak tahu berapa harga merek asli jam tangan brand internasional ini. Tetapi senyummku merekah, bersamaan dengan air mata yang tidak berhenti menganak sungai. 


Selasa, tujuh September dua ribu dua pukuh satu: Selamat ulang tahun ke tiga puluh tiga Marleni. 😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...