Sehari serasa tidak cukup untuk membuat harapan-harapanmu terwujud. Mendengarkan suara di sekelilingmu lalu menyimpannya di dadamu. Seketika ruangan yang lengang menjadi riuh oleh keramaian di dadaku. Membuatnya terasa berat dan melelahkan. Lepaskan.
Kamu sudah mepakukan yang terbaik. Mendengar suara hatimu, merangkainya sedemikian indah, lalu mengungkapkannya dalam baris-baris puisi. Saat penyair membacanya, energi yang kau titipkan menjelma gelombang-gelombang. Menggetarkan dada yang beku. Lalu, Gletser itu menganak sungai menjelma air mata.
Berterima kasihlah pada waktu yang berputar tidak berhenti. Ia menuntun perasaanmu tumbuh menjadi kenangan. Lalu tumbuh menjadi bunga-bunga kerinduan saat rinai kesepian turun dari langit. Mungkin sesekali ia akan kering oleh angin dan badai yang menghantam pikiranmu. Namun, benih-benih cinta akan senantiasa mengakar di dalam jiwamu.
Lalu, jika ada air mata jatuh di atas senyumanmu. Maka bersiaplah suguhkan embun-embun harapanmu. Agar ia mampu terurai seindah pelangi. Setiap rasa tidak pernah sama. Tetapi kamu ada satu dari kesatuan rasa. Tepuk pundakmu, ucapkan terima kasih kepada jantung yang tidak lelah berdetak serta sepasang paru-parumu untuk bernapas.
Dua puluh dua november dua ribu dua puluh satu.
Komentar
Posting Komentar