Langsung ke konten utama

Kepik

Sehari serasa tidak cukup untuk membuat harapan-harapanmu terwujud. Mendengarkan suara di sekelilingmu lalu menyimpannya di dadamu. Seketika ruangan yang lengang menjadi riuh oleh keramaian di dadaku. Membuatnya terasa berat dan melelahkan. Lepaskan. 

Kamu sudah mepakukan yang terbaik. Mendengar suara hatimu, merangkainya sedemikian indah, lalu mengungkapkannya dalam baris-baris puisi. Saat penyair membacanya, energi yang kau titipkan menjelma gelombang-gelombang. Menggetarkan dada yang beku. Lalu, Gletser itu menganak sungai menjelma air mata. 

Berterima kasihlah pada waktu yang berputar tidak berhenti. Ia menuntun perasaanmu tumbuh menjadi kenangan. Lalu tumbuh menjadi bunga-bunga kerinduan saat rinai kesepian turun dari langit. Mungkin sesekali ia akan kering oleh angin dan badai yang menghantam pikiranmu. Namun, benih-benih cinta akan senantiasa mengakar di dalam jiwamu. 

Lalu, jika ada air mata jatuh di atas senyumanmu. Maka bersiaplah suguhkan embun-embun harapanmu. Agar ia mampu terurai seindah pelangi. Setiap rasa tidak pernah sama. Tetapi kamu ada satu dari kesatuan rasa. Tepuk pundakmu, ucapkan terima kasih kepada jantung yang tidak lelah berdetak serta sepasang paru-parumu untuk bernapas. 

Dua puluh dua november dua ribu dua puluh satu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...