Langsung ke konten utama

Postingan

Dear, Marleni

Hai Marleni, kamu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah berjuang sampai sejauh ini. Melakukan perubahan-perubahan dalam hidupmu. Menghadapi tantangan-tantangan hidup dengan tetap bersandar pada nilai dan prinsip hidup yang kau yakini. Terima kasih sudah berbuat baik dan memupuk dadamu dengan cinta kasih. Terima kasih mau bangkit lagi meskipun sudah jatuh berkali-kali.  Terima kasih tetap bertahan meskipun kamu sendirian. Terima kasih tetap percaya kepada orang-orang di sekelilingmu meskipun berkali-kali mendapati penghianatan. Tidak apa jika pernah kecewa atau menangis sekencang-kencangnya dalam diam dan kesepian. Kamu yakin bukan bahwa Tuhan menyayangimu?. Ia  maha segalanya, memberimu banyak kekuatan dan kasih sayang sehingga membuatmu bisa menerima dan memaafkan dan mengasihi setiap makhluk yang kau temui.  Penolakan dari orang lain tidak sepenuhnya karena kamu penyebabnya. Bisa jadi mereka hanya lelah dan sedih atas kehidupan yang mereka jalani. Selalu inga...
Postingan terbaru

Akhirnya

Harapan telah sirna. Doa-doa saya rapalkan. Tetapi tetap saja jasad bernyawa ini tidak mau bergerak. Seperti tidak ada jiwa di sana. Kata karsa, makanlah. Aku makan lahap sekali, sampai tidak menyadari bahwa aku butuh diriku sendiri.  Aku ingin menyerah saja. Aku lelah sekali. Bukan karena orang-orang bertingkah semau mereka. Tetapi aku lelah dengan diriku sendiri. Aku ternyata menyakiti hati banyak orang. Sekuat apapun apapun aku aku hanya ingin tumbang.  Aku ingin percaya dengan diriku sendiri. Tetapi tidak, aku sebenarnya hanya membiarkan diriku dipenuhi belukar. Jiwa ini yang selalu terabaikan, maafkan aku. Lewat angin Tuhan membawakan sebuah pesan. Aku membiarkannya lewat dihadapan kedua pelupuk mataku. Kemudian, pilu merajai dadaku. 

Menelaah Sebuah Gerakan

Entah ini jumat keberapa dalam hidupku yang kulewati. Tidak ada yang istimewa, dan seperti tidak ada yang berharga. Aku menyukai perasaan seperti ini : tentram dan nyaman. Perasaan yang benar-benar biasa saja.  Aku mundur dan membatasi aktifitas di salah satu organisasi yang saya ikuti karena terasa penuh intrik dan perebutan kekuasaan. Sebuah hal yang membuatku tidak nyaman. Sebuah gerakan sosial menurutku selayaknya punya tujuan jauh dari hal seperti itu. Ia adalah roda pendorong untuk penyelesaiakn persoalan-persoalan di masyarakat.  Ironis, mengingat sebuah organisasi mengkader calon anggotanya untuk menyelesaikan masalah dengan merakayasa sebuah masalah. Padahal, tanpa kita 'menciptakan' sebuah persoalan sosial, saya yakin persoalan sosial tetaplah ada. Lalu, organisasi adalah tools (alat atau metode) untuk mengasahkan kepekaan kadernya untuk menyadari persoalan diri-sekitarnya. Selanjutnya gerakan organisasi adalah untuk penyelesaian masalahnya.  Aku sedang merenung...

Perubahan yang menghadirkan kehidupan

Saya teringat kalimat Kang Sobih. Cara berfikir seorang Gusdurian itu kritis, adil dan tidak kolot. Aku sepakat soal itu. Sementara orang-orang yang berada pada gerakan sosial menempatkan masyarakat sebagai objek. Mereka datang dengan gagah bersama gagasan dan ide-ide cemerlang. Melakukan sesuatu untuk perubahan masyarakat. Hal ini benar-benar meresahkan pikiran saya. Entah apa yang keliru di sini. Sampai akhirnya saya menyadari akan satu hal.  Perubahan itu datangnya dari dalam, kata Mas Jay. Telur jika energinya pecah dari luar maka hanya akan menjadi telur yang busuk, paling banter adalah jadi telor ceplok atau telur dadar. Sementara jika energi perubahan itu datangnya dari dalam. Maka, kehidupan (baru) yang akan hadir.  Spirit perubahan itu harus selalu datang dari dalam. Begitupula dengan perubahan di masyarakat. Upayakan energi-energi perubahan itu bersumber dari potensi masyarakat itu sendiri. Hal-hal dari luar apapun itu bentuknya termasuk ilmu pengetahuan hanya sebaga...

Refleksi Kefasilitator Jaringan GUSDURian

Sejak tahun 2015 entah sudah berapa kali saya mengikuti pelatihan fasilitator Jaringan GUSDURian, saya luput menghitungya. Hal yang pasti banyak perubahan yang saya alami selang beberapa tahun. Terutama pelatihan fasilitator yang saya ikuti  terakhir kali, pada April 2022.  Selain bertemu banyak teman dan memiliki tempat belajar untuk tumbuh dan berkembang menjadi seorang penggerak sosial. Saya juga mendapatkan banyak didorong untuk memaksimalkan potensi yang saya miliki, salah satunya adalah menjadi fasilitator.  Selaras dengan profesi saya sebagai seorang pendidik. Proses yang saya alami menjadi seorang fasilitator juga menunjang proses bertumbuh dan berkembang sebagai seorang pendidik. Saya belajar menggali ide-ide, memegembangkan perasaan positif, dan melatih potensi-potensi diri yang (ternyata) saya miliki. Terkait kefasilitatoraan dan menjadi pendidik.  Sampai akhirnya pada malam ini saya bisa berbincang dan menajamkan pemahaman terkait Design Think...

Kuserabut Ingatanku Tentangmu

Aku tahu bahwa saat waktu bergulir, sel-sel tubuh kita menghabiskan akan luruh berganti baru. Detik demi detik melangkah, denyut nadi tidak berhenti. Deru nafas kita pertanda kehidupan berjalan, masa akan berganti. Lalu entah kenapa hanya ingatanku, jiwaku yang terpenjara masa lalu.  Jiwa-jiwa berisi luka nanah dan air mata. Kehilangan kepercayaan, ditinggalkan, diabaikan dan tidak dianggap ada. Aku tidak mampu menangkap ekspresi apapun selain termanggu pada luka dan dendam yangbtelah berlalu.  Sadar benar kusaksikan seenyumanmu hari ini. Merekah tanpa membawa beban luka yang telah kamu tinggalkan lewat perpisahan tanpa kata-kata. Saat ini bahkan kulihat kamu begitu mesra dengan kopi pagi untuk menyambut harimu hingga senja menjelang. Sementara, aku tidak mampu membedakan gurat jinggaa merah atau fajar menjelma. Sebab, bagiku langit tampak biasa saja.  Selamat datang untukmu hari ini. Sampai bertemu di masa lalu. Semoga di masa depan kita tidak pernah bertemu....

Kegundahan

Menjelang tengah malam saya masih terpaku duduk di sudut sebuah kedai kopi. Suasana masih tampak ramai, dibanding beberapaa jam sebelumnya suasana tampak sesikit lengang. Tampak orang-orang duduk menunduk bersama gawai di pangkuannya. Setelah sebelumnya tampai ramai bercengkrama dengan kawan-kawannya.  Sedikit berbeda saat ia bersama kerumunannya. Eekspresinya, sorot matanya, deru nafasnya kini tampak pelan dan sesekali menghela nafas panjang. Memang, kadangkala menguraikan sesak di dada tidak semua melepas tawa di tempat-tempat ramai.  Serupa denganku, sebelumnya sayapun tampak tertawa sampai terjungkal. Sesekali asik masuk dengan gawai-pun, bersama kawan suasana memang sedikit riuh. Saat sendirian, kita akan kembali kepada semesta sunyi paling abadi: diri kita sendiri. Jangankan terjungkal, bergerakpun tampak tak mampu. Kita sibuk menjelajah ruaang paling gelap dalam diri kita.  Malam tampak hidup bukan karena suara-suara mapun tawa. Justru kehidupan saat ge...