Hai Marleni, kamu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah berjuang sampai sejauh ini. Melakukan perubahan-perubahan dalam hidupmu. Menghadapi tantangan-tantangan hidup dengan tetap bersandar pada nilai dan prinsip hidup yang kau yakini. Terima kasih sudah berbuat baik dan memupuk dadamu dengan cinta kasih. Terima kasih mau bangkit lagi meskipun sudah jatuh berkali-kali. Terima kasih tetap bertahan meskipun kamu sendirian. Terima kasih tetap percaya kepada orang-orang di sekelilingmu meskipun berkali-kali mendapati penghianatan. Tidak apa jika pernah kecewa atau menangis sekencang-kencangnya dalam diam dan kesepian. Kamu yakin bukan bahwa Tuhan menyayangimu?. Ia maha segalanya, memberimu banyak kekuatan dan kasih sayang sehingga membuatmu bisa menerima dan memaafkan dan mengasihi setiap makhluk yang kau temui. Penolakan dari orang lain tidak sepenuhnya karena kamu penyebabnya. Bisa jadi mereka hanya lelah dan sedih atas kehidupan yang mereka jalani. Selalu inga...
Harapan telah sirna. Doa-doa saya rapalkan. Tetapi tetap saja jasad bernyawa ini tidak mau bergerak. Seperti tidak ada jiwa di sana. Kata karsa, makanlah. Aku makan lahap sekali, sampai tidak menyadari bahwa aku butuh diriku sendiri. Aku ingin menyerah saja. Aku lelah sekali. Bukan karena orang-orang bertingkah semau mereka. Tetapi aku lelah dengan diriku sendiri. Aku ternyata menyakiti hati banyak orang. Sekuat apapun apapun aku aku hanya ingin tumbang. Aku ingin percaya dengan diriku sendiri. Tetapi tidak, aku sebenarnya hanya membiarkan diriku dipenuhi belukar. Jiwa ini yang selalu terabaikan, maafkan aku. Lewat angin Tuhan membawakan sebuah pesan. Aku membiarkannya lewat dihadapan kedua pelupuk mataku. Kemudian, pilu merajai dadaku.