Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

HARMONI

Duh, Gusti . . . Bukalah setiap mata untuk melihat kedalam hati menuntun kepada tanda-tanta yang telah engkau guratkan Pada batas-batas diantara warna pelangi yang Engkau kaburkan Pada jejeran rerumputan yang sibuk tumbuh masing-masing, tanpa tercabut dan tertanam, tidak terpisah petak dan lubang galian Pada kesegaran air yang engkau titipkan, bersama udara dalam embun yang begitu mesra dan penuh rindu. Pada senyum lugu nan jenaka yang dilukiskan kanvas senja, tanpa dipisahkan oleh waktu dan gerak kerutan tipis rasa manusia. Maka jadikanlah kami, dalam alaminya keselarasan yang Engkau ciptakan Cirebon, 9 februari 2014 MarLeni

MILIRAN*

Aku heran manusia menikmati hari ini Mereka melukis masa lalu dengan kata-kata Aku heran dengan jalan-jalan ini mereka melukis setiap titik sebagai tujuan aku heran dengan pepohonan ini mereka begitu nyaman bersandar sambil tertawa Aku heran dengan rumah ibadah ini Mereka menari dengan puji-puji serta tawa yang beragam Aku heran dengan rumah-rumah ini Mereka begitu nyaman melingkari malam dengan mimpi Aku heran dengan sudut gang-gang ini Mereka membangun lorong-lorong pertemuan Berbicara tanpa beringsut kesana-kemari Aku heran dengan drainase ini Mereka mengalirkan sejarah-sejarah peradaban Sungai besar dijadikan monumental Aku heran dengan ini, mengapa aku menyukainya Selalu ingin kembali Yogyakarta, 2 desember 2013 MarLeni

mengering

Ranting mengecap embun pagi Diteteskan dedaunan yang menari diatasnya mengagumi kekokohkannya. Menyumbang asa dan rindu dari setiap tetes Tapi waktu terus riang bernyanyi, melantunkan rapuh tak tertandingi.

Didalam sunyi

aku tidak mampu lagi menjangkau apa-apa dalam ragaku meski menerjang sunyi dalam bait-bait nama sang maha suci kusatukan pada ujung ubun-ubun, pangkal paru-paru, dan ujung jantungku namun terhenti pada lidah yang menggulung, hanya sampai kerongkongan saluran-saluran penghubung diantaranya seperti telah membatu atau barngkali telah berkarat pada jeda detik aku mengucap lagi, setiap waktu yang ada aku memanggil nama itu lagi namun, lagi-lagi hanya sampai kerongkonganku tersekat, terseret dalam rasa paling manusiawiku aku, kembali merindu Cirebon, juni 2013 MarLeni MarLeni

Barter

bolehkah aku menukar rinduku? dengan tatapanmu, dengan senyummu akan kurelakan selisih diantaranya agar rindu bukan lagi ceruk bagi palung hatiku agar dia tak semakin ria untuk menggali urat sadarku ayolah, sekali saja temui aku dalam transaksi senja setelah kesepakatan terjadi akan kubiarkan kamu mengambil milikmu kembali sambil membawa semuanya termasuk rinduku bawalah sampai rumahmu, toh  lagi pula rindu itu akan kembali setapak saat tatapanmu kau ambil alih Cirebon, mei 2013 MarLeni dipost juga  disini

BINTANG

Aku ingin kembali menanti senja bergulir padam. Bahkan ketika fajar baru saja datang Karena aku ingin menemuimu. Melewati hamparan  balutanhitam. Melalui kesunyian yang tersembunyi. Dalam kesendirian yang terselubung. Karena pertemuan kita hanya melalui malam. Malam, rahasia. Malam, tenang. Malam, meja perjamuan. Malam, persimpangan Malam, titik temu. Malam, harapan yg menyatu dengan wujudmu. Meski hanya satu langkahmu, kita bertemu Cirebon,24 januari 2013 MarLeni *pernah dipost  disini

MENDEKAT

Aku dibunuh kekejianku sendiri dalam beberapa waktu, Saat detik waktu mulai membantai membantai nuraniku Seraya menatap luka-luka penuh pilu dengan senyum Teriris kabut kerinduan dalam jiwa yang menjauh Aku menunggumu seperti badai dalam hari yang tak kunjung hujan Aku merindukanmu dalam sebuah gutasi embun yang sederhana Aku mempermalukan diri karena luka yang sembuh hanya karena senyummu. Kemarilah cinta, aku bersama air matamu. Akupun ber- iringan menuju tawamu. Sekali lagi, Izinkan aku berada di tempat dijauhnya engkau pergi . . .

BAIT DO'A KECIL UNTUKMU

Aku mengisi dirimu dalam setiap sanubariku, Yang kukenal darimu adalah sebuah kebaikan Hal yang istimewa kau selalu melampaui Bagiku kau sungguh teristimewa Aku terlahir dari belantara hatimu, Namun aku hidup dari sisi jiwamu yang lembut Menghirup nafas kehidupan lewat cintamu Mengenal desiran takdir lewat bait katamu Tak ada kesempurnaan kasih sayang manusia selain  milikmu Pun-tanpa kau sadari aku bagian hidupmu Langkahku adalah kesabaranmu Keringatku adalah wakil dari mimpimu Maaf jika aku tak lagi berceloteh manja denganmu Maafkanlah karena aku tak pernah meminta maaf padamu secara sempurna, Dalam bait nafasku kau selalu punya nada terindah untuk kukenang Dalam syair cinta, kau tiada tara tulusnya bagiku Ibu, untuk saat ini aku hanya bisa membalasmu dengan kutipan doa dari para hamba yang shaleh “sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangi diriku diwaktu kecil”

ENGGAN . . .

Mampukah engkau membenamkan langkah-langkah berat yang terseret arus egoku?  Jika kau hanya tersenyum menggigil sambil menggengam cintamu yang lusuh itu, maka segera hentikan. Carilah arus yang lain yang bisa kau bermandikan cahaya disana . . . Karena aku sebuah kesuraman yang panjang, asa di dalamnya telah bekarat dan membeku . . .begitu dalam. Kuijinkan dirimu melangkah keluar, sambil menyeret airmataku yang rela berderai karena jutaan waktu aku merindukanmu. Tapi ini karena aku tak punya tempat yang nyaman untukmu. Karena aku tak punya udara segar yang bisa kau hirup dengan tenang. Tak ada ruang untukmu berteriak dan mengisahkan kisahmu untukku . . . .karena duniaku sudah kubatasi dengan kesakitan-kesakitanku. Kumohon, pergilah . . .sebelum aku kembali berubah pikiran dan enggan melenyapkanmu dari sisi paling krusial dari hamparan memoriku yang kusut. Pergilah, Sebelum aku memintamu untuk memberikan senyummu kembali untukku . . . Cirebon, 2 oktober...