Langsung ke konten utama

Kamu Sudah Bekerja Keras

Terbangun dipagi hari, ingatan tentang kalimat ibuku memenuhi pikiranku. Seketika perasaan sedih muncul dan membuat badanku terasa berat. Kuraih ponsel, mencoba mencari informasi yang menarik. Berharap dapat mempolarisasi perasaan negatif di pagi hari. 

Sementara jari-jariku bergerak, pikiranku berkelana menuju ingatan malam lalu. Lalu  aku merasa lemah dan hampir tidak punya keinginan untuk bangkit dari tempat tidur. Karena gambar di layar tidak memberi dampak yang kuinginkan. Bahkan aku semakin terlarut dalam perasaan, begitu dalam. 

Terngiang dalam ingatanku saat sumpah serapah ibuku menggema di seluruh ruangan. Seolah genting akan runtuh dan tembok akan ambruk. Seisi rumah menjadi bergetar, menggema hebat. Emosinya yang besar begitu menusuk pikiran dan hatiku. Ibuku memang luar biasa berpengaruhnya untuk diriku. 

Aku membencinya, ketika ia berkata kasar dan tidak logis. Merengek dan berburuk sangka, apalagi memandang rendah orang lain dengan kalimat-kalimat sinis. Lalu akan mengucurkan air mata mengharap iba karena sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Ingin dimaafkan, ingin dipahami, kemudian ingin dipuja. 

Sambil melaju kendaraan menuju tempat kerja aku menatap nanar pepohonan di pinggir jalan. Seandainya aku jadi pohon, aku berpikir mungkin akan lebih baik. Sebab, aku adalah tunas yang tumbuh dari tanah, tidak menetek kepada biyungnya. Akupun tidak perlu berdebat ini dan itu, atau dituntut sebagai anak yang baik. Namun, aku sadar hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebab aku manusia. Tanpa terasa air mataku menetes. 

Terbata-bata aku mengucapkan kalimat dari balik helm yang kupakai. Kamu sudah bekerjaa keras hari ini, terima kasih. Terimakasih sudah menjadi manusia kuat dan hebat. Kamu pintar, cerdas, dan berbakat. Kamu juga ramah, teman yang asyik serta penuh cinta. Kamu baik hati dan suka menolong sesama. Sesekali kamu marah, iya tidak apa. Sebab kamu manusia. Kamu sedikit mengeluh maupun banyak menangis juga tidak apa, kamu baik-baik saja. Serta kalimat-kalimat lain yang keluar begitu saja seraya air mata semakin deras mengalir membasahi pipi. 

Sumpah serapah orang tua memang membahayakan. Efeknyaa luar biasa membuat mental hancur lebur. Namun hal yang saya gugat di sini adalah mengapa orang tua kerap kali memgancam anak bahwa mereka akan bersumpah ini dan itu. Sementara, orang tua tidak menyadari bahwa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik adalah tugas dan kewajiban orang tua. 

LimaJuniDuaribuduapuluhsatu. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

Dear, Marleni

Hai Marleni, kamu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah berjuang sampai sejauh ini. Melakukan perubahan-perubahan dalam hidupmu. Menghadapi tantangan-tantangan hidup dengan tetap bersandar pada nilai dan prinsip hidup yang kau yakini. Terima kasih sudah berbuat baik dan memupuk dadamu dengan cinta kasih. Terima kasih mau bangkit lagi meskipun sudah jatuh berkali-kali.  Terima kasih tetap bertahan meskipun kamu sendirian. Terima kasih tetap percaya kepada orang-orang di sekelilingmu meskipun berkali-kali mendapati penghianatan. Tidak apa jika pernah kecewa atau menangis sekencang-kencangnya dalam diam dan kesepian. Kamu yakin bukan bahwa Tuhan menyayangimu?. Ia  maha segalanya, memberimu banyak kekuatan dan kasih sayang sehingga membuatmu bisa menerima dan memaafkan dan mengasihi setiap makhluk yang kau temui.  Penolakan dari orang lain tidak sepenuhnya karena kamu penyebabnya. Bisa jadi mereka hanya lelah dan sedih atas kehidupan yang mereka jalani. Selalu inga...