Duh, Gusti . . .
Bukalah setiap mata untuk melihat kedalam hati
menuntun kepada tanda-tanta yang telah engkau guratkan
Pada batas-batas diantara warna pelangi yang Engkau kaburkan
Pada jejeran rerumputan yang sibuk tumbuh masing-masing, tanpa tercabut dan tertanam, tidak terpisah petak dan lubang galian
Pada kesegaran air yang engkau titipkan, bersama udara dalam embun yang begitu mesra dan penuh rindu.
Pada senyum lugu nan jenaka yang dilukiskan kanvas senja, tanpa dipisahkan oleh waktu dan gerak kerutan tipis rasa manusia.
Maka jadikanlah kami, dalam alaminya keselarasan yang Engkau ciptakan
Cirebon, 9 februari 2014
MarLeni
Bukalah setiap mata untuk melihat kedalam hati
menuntun kepada tanda-tanta yang telah engkau guratkan
Pada batas-batas diantara warna pelangi yang Engkau kaburkan
Pada jejeran rerumputan yang sibuk tumbuh masing-masing, tanpa tercabut dan tertanam, tidak terpisah petak dan lubang galian
Pada kesegaran air yang engkau titipkan, bersama udara dalam embun yang begitu mesra dan penuh rindu.
Pada senyum lugu nan jenaka yang dilukiskan kanvas senja, tanpa dipisahkan oleh waktu dan gerak kerutan tipis rasa manusia.
Maka jadikanlah kami, dalam alaminya keselarasan yang Engkau ciptakan
Cirebon, 9 februari 2014
MarLeni
Komentar
Posting Komentar