Mampukah engkau membenamkan langkah-langkah berat yang terseret arus egoku? Jika kau hanya tersenyum menggigil sambil menggengam cintamu yang lusuh itu, maka segera hentikan. Carilah arus yang lain yang bisa kau bermandikan cahaya disana . . .
Karena aku sebuah kesuraman yang panjang, asa di dalamnya telah bekarat dan membeku . . .begitu dalam. Kuijinkan dirimu melangkah keluar, sambil menyeret airmataku yang rela berderai karena jutaan waktu aku merindukanmu.
Tapi ini karena aku tak punya tempat yang nyaman untukmu. Karena aku tak punya udara segar yang bisa kau hirup dengan tenang. Tak ada ruang untukmu berteriak dan mengisahkan kisahmu untukku . . . .karena duniaku sudah kubatasi dengan kesakitan-kesakitanku.
Kumohon, pergilah . . .sebelum aku kembali berubah pikiran dan enggan melenyapkanmu dari sisi paling krusial dari hamparan memoriku yang kusut.
Pergilah,
Sebelum aku memintamu untuk memberikan senyummu kembali untukku . . .
Cirebon, 2 oktober 2011
23: 08 WIB
MarLeni
Komentar
Posting Komentar