Aku dibunuh kekejianku sendiri dalam beberapa waktu,
Saat detik waktu mulai membantai membantai nuraniku
Seraya menatap luka-luka penuh pilu dengan senyum
Teriris kabut kerinduan dalam jiwa yang menjauh
Aku menunggumu seperti badai dalam hari yang tak kunjung hujan
Aku merindukanmu dalam sebuah gutasi embun yang sederhana
Aku mempermalukan diri karena luka yang sembuh hanya karena senyummu.
Kemarilah cinta, aku bersama air matamu.
Akupun ber- iringan menuju tawamu.
Sekali lagi,
Izinkan aku berada di tempat dijauhnya engkau pergi . . .
Komentar
Posting Komentar