Langsung ke konten utama

Perubahan yang menghadirkan kehidupan

Saya teringat kalimat Kang Sobih. Cara berfikir seorang Gusdurian itu kritis, adil dan tidak kolot. Aku sepakat soal itu. Sementara orang-orang yang berada pada gerakan sosial menempatkan masyarakat sebagai objek. Mereka datang dengan gagah bersama gagasan dan ide-ide cemerlang. Melakukan sesuatu untuk perubahan masyarakat. Hal ini benar-benar meresahkan pikiran saya. Entah apa yang keliru di sini. Sampai akhirnya saya menyadari akan satu hal. 

Perubahan itu datangnya dari dalam, kata Mas Jay. Telur jika energinya pecah dari luar maka hanya akan menjadi telur yang busuk, paling banter adalah jadi telor ceplok atau telur dadar. Sementara jika energi perubahan itu datangnya dari dalam. Maka, kehidupan (baru) yang akan hadir. 

Spirit perubahan itu harus selalu datang dari dalam. Begitupula dengan perubahan di masyarakat. Upayakan energi-energi perubahan itu bersumber dari potensi masyarakat itu sendiri. Hal-hal dari luar apapun itu bentuknya termasuk ilmu pengetahuan hanya sebagai pemantik agar energi perubahannya besar dan semakin cepat menyebar. 

Kunci dari perubahan itu adalah kesadaran akan adanya atau keniscayaan terhadap perubahan. Sama halnya dengan perubahan pada diri sendiri. Tidak ada energi yang menghidupkan, selain perubahan masyarakat yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. 

Bagaimana cara untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat, kesadaran kolektif. Salah satunya adalah dengan membangun kesadaran diri kita akan sebuah perubahan yang lebih baik. Selanjutnya, jika perubahan itu terus-menerus dilakukan maka akan berdampak dan berpengaruh terhadap kesadaran kolektif. Selanjutnya, kesadaran-kesadaran baru akan hadir. Sehingga sebuah kesadaran menjadi arus utama. 

Bisa saja, persoalan akan terjawab dengan: Apa langkah praktis yang harus kita lakukan?. Bisa saja, tetapi nyala itu hanya saat itu saja. Menyala, lalu saat bahan bakarnya habis. Kegelapan akan datang kembali. Membangun kesadaran masyarakat, memantik potensi perubahan pada masyarakat itu adalah kunci untuk perubahan sosial yang berkelanjutnya dan mengakar. 

Cirebon, 19 Juni 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...