“Rasa kehilangan pasti akan ada, jika kau
pernah merasa memilikinya . . .”-Letto
Mendengung dan seolah tak mati, syair terpahat perlahan dalam hatiku. Seraya
terlintas bayanganmu, aku berusaha mengingat satu-persatu. Tak butuh waktu lama
memang, tapi hanya terlintas beberapa frame saja.
Saat tanganmu yang kecoklatan itu begitu mesra menyambutku. Fokus
rekaman itu bergoyang sedikit. Iya, aku sedikit tertatih. Dan kualihkan ke
atas, tepat diwajahmu aku mendapati senyumanmu. Dengan deretan gigi rata yang
tangguh, dan bibir yang menghitam kering itu. Tapi begitu memancar, merekah
bibirmu itu tanpa kata.
Kudaratkan segera keningku diwajahmu, namun hanya mencapai janggutmu
yang kasar ditumbuhi rambut. Tanganku menggeanggam lehermu yang masih licin
karena keringat yang baru kau usap. Kemudian pipiku yang lembut bergoyang
kenyal saat menyambut tulang pipimu yang keras. Aku tertawa, karena aku begitu
mengenali tekstur pelipismu yang halus. Satu-satunya yang paling halus ketika
kusentuh dengan jariku.
Kelopak mataku secepat mungkin menutup, menurunkan panas yang menjejali
pandanganku. Membiarkan bongkahan rindu mereda. Ini seperti emosi yang mudah
tersulut, begitu membara. Saat kudapati jari-jariku mulai sekasar pipimu saat itu,
kembali aku teringat waktu. Waktu yang terasa begitu panjang saat kutapaki
sekaligus begitu singkat saat kuselami.
Jariku ini mengingatkan betapa besar dan kuat jarimu. Tanganku saat
kuning langsat dan lembut hanya mampu menggenggam telunjukmu saja. Saat itu
terjadi, kamu bangkit dan menuntunku berjalan bersama. Satu langkahku, satu
jengkal tapak kakimu. Aku begitu malu hanya menunduk saja. Kudapati bekas
lumpur abu-abu dimata kakimu. Jika kubandingkan, telapak kakiku memang menang.
Begitupun, karena kakimu selalu kulihat bertelanjang saja.
Aku menunduk, mengepalkan tanganku dan menaruhnya dikeningku tepat
diantara kedua alisku. Sambil mengambil nafas satu persatu, aku melangkah.
Sepatuku menyenggol rumbut teki yang berbunga. Untuk beberapa saat aku tak peduli, tapi kemudian aku berhenti.
Meraih batangnya, perlahan kusentuh lalu kupatahkan, baunya begitu khas.
Mataku kembali terpejam. Kuatur nafasku, agar dadaku tak begitu sesak.
Meski tak se-sesak kali itu, saat kudapati dirimu- bibirmu semakin mengering.
Hitamnya sedikit memudar dan keabu-abuan. Tapi kenapa tidak kulihat kegersangan
disana. Lagi, malah senyummu kembali hadir.
Menatap sudut matamu lagi berkali-kali dihari yang sama, tak membuatku
tahu apa yang terpancar. Lagi, kelopakmu yang kuyu membuka dan menutup
perlahan. Lalu bibir keringmu bergerak membisiku penuh sendu lagi harap. Aku
persis tak mengenali maksudnya, tapi belum sempat aku bertanya kau menatapku
manja. Membuatku tak berani bicara, hanya menginginkan kau terus menatapku. Dan
sampai putihnya kapuk randu yang beterbangan menyentuh rambutku yang tertiup
angin kemarau 20 tahun yang lalu menjadi pertanda ingatanku tentangmu.
Tentangmu saat itu tanpa senyuman di bibir keringmu.
Kapuk randu yang putih itu kembali beterbangan di atas kepalaku. Tapi
angin kemarau ini terasa berbeda, lebih dingin dari angin saat itu-saat bibir
keringmu tak tersenyum merekah. Kali ini aku kembali menginjak rumput teki yang
belum berbunga, lagi dan lagi. Berhenti digundukan tanah tanpa rumput teki.
Disini kulihat terakhir aku menatap bibir keringmu yang tanpa senyuman
itu. Berganti kerumunan kerudung hitam yang riuh tangis. Aku berjongkok,
menyentuh sisi gundukan tanah kering itu. Seperti menyentuh tanganmu yang kekar
dan kecoklatan. Merasakan pelipismu yang lembut, dan janggutmu yang kasar, dan
tentu bibir keringmu yang selalu tersenyum.
Aku milikmu, tapi aku hanya sedikit memiliki ingatan tentangmu. Tapi
aku bahagia mengingatnya. Aku juga Bahagia
memilikmu, meski hanya sedikit menyimpan ingatan tentangmu. Seiring angin
kemarau yang bertiup mengering aku berucap lirih : “ Ayah . . .”.
* dipost juga disini
Cirebon, mei 2012
Marleni
Komentar
Posting Komentar