Menjelang tengah malam saya masih terpaku duduk di sudut sebuah kedai kopi. Suasana masih tampak ramai, dibanding beberapaa jam sebelumnya suasana tampak sesikit lengang. Tampak orang-orang duduk menunduk bersama gawai di pangkuannya. Setelah sebelumnya tampai ramai bercengkrama dengan kawan-kawannya.
Sedikit berbeda saat ia bersama kerumunannya. Eekspresinya, sorot matanya, deru nafasnya kini tampak pelan dan sesekali menghela nafas panjang. Memang, kadangkala menguraikan sesak di dada tidak semua melepas tawa di tempat-tempat ramai.
Serupa denganku, sebelumnya sayapun tampak tertawa sampai terjungkal. Sesekali asik masuk dengan gawai-pun, bersama kawan suasana memang sedikit riuh. Saat sendirian, kita akan kembali kepada semesta sunyi paling abadi: diri kita sendiri. Jangankan terjungkal, bergerakpun tampak tak mampu. Kita sibuk menjelajah ruaang paling gelap dalam diri kita.
Malam tampak hidup bukan karena suara-suara mapun tawa. Justru kehidupan saat gelap adalah perwnungan dan kesunyian. Sementara kesepiaan masih enggan pergi, pikiran kita ditemani pikiran-pikiran yang timbuh liar merajam perasaan. Kepada jiwaku, selamat datang di semestamu, kesunyian.
Cirebon, 17 Maret 2022
Komentar
Posting Komentar