Langsung ke konten utama
Saat ini gejala religiusitas tengah melanda masyarakat. Apapun persoalannya pasti diukur dengan kacamata agama. Norma agama, saat saya sekolah dasar adalah aturan yang tidak mengikat yang berlaku pada masyarakat. Saat ini, definisi tersebut mengalami peyorasi. Sebab, agama saat ini bisa menjadi legitimasi hukum terhadap tindakan apapun. 

Kejadian penusukan seorang ulama yang tengah melakukan ceramah di masa pandemi membuat geger jagat maya. Segala macam spekulai terhadap kejadian tersebut mengemuka. Dari penjelasan dari pihak berwenang sampai ribuan opini pribadi di media sosial muncul. Sebagian besar menurut pengamatan penulis sudut pandangnya melalui agama, perlindungan ulama atau penistaan agama. 

Jika kita tilik lebih seksama tentang kejadian tersebut. Pertama pengajian yang dilakukan saat pandemi minim protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan mengenakkan masker. Kenapa hal tersebut penting, sebab mengumpulkan massa dalam jumlah besar di tempat terbuka tanpa menghiraukan aturan Adaptasi Baru patut dipertanyakan. Bagaimana aparat terkait memberikannijin pelaksanaan pengajian tersebut. 

Teror, menjadi isu hangat lain yang muncul di beberapa opini dan kolom kometar beberapa media online yang mewartakan kejadian tersebut. Meskipun motif penyerangan belum jelas. Bahkan ada banyak informasi tidak jelas yang mengiringi saat menyelidikan terhadap tersangka penusukan masih berlangsung. Lalu beberapa opini muncul bagaikan angin berhembus menggoyahkan kesadaran orang-orang yang percaya terhadap sumber informasi di media sosial. 

Diluar bagaimana media sosial mempengaruhi opini dan realitas publik. Saya mengamati gejala lain, yakni tolok ukur masyarakat terhadap sesuatu peristiwa sosial, Agama. Apapun kejadiannya kita digiring melalui kacamata agama. Padahal, tindakan kriminal sangat erat kaitannya terhadap pelanggaran hukum. Berkaitan dengan hak-hak warga sipil dalam berkumpul dan melakukan aktifitas. Meskipun akan sedikit berbeda karena saat ini negara sedang berjibaku menghadapi pandemi sehingga aturan berkumpul di ruang publik dalam jumlah massa besar juga menjadi isu utama. 

Lain soal mengenali label halal dan syari yang tengah menjangkiti segala macam produk dari sabun cuci hingga panci. Sementara aturan label halal terhadap makanan banyak sekali yang mengkritisi dari metodologi hukum fikih, lalu berbondong-bondong peralatan rumah tangga mengejar label halal. Tujuan lain dari semua itu jika kita sadari adalah persoalan promosi, tentang laba dan keuntungan materi. Penulis tidak melihat kemaslahatannya terhadap tatanan sosial bahkan malah mengerdilkan labelisasi halal itu sendiri. Apakah strategi rersebut berhasi, dengan sedih saya mengakui iya. 

Sementara kita hidup di negara dengan asa demokrasi. Di mana agama menjadi hak privat dan dilindungi olrh negara. Maka menurut penulis ini menjadi jalan panjang dalam menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti yang menjadi tujuan berbangsa dan bernegara. Hal-hal yang semestinya menjadi persoalan hukum, harusnya dijalan sebagaimana mestinya sesuai dengan aturan yang berlaku. Tidak menggunakan agama sebagai bentuk legitimasi segala tindakan. Sementara, Bhineka Tunggal Ika menjadi kedaran mutlak bangsa ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...