Langsung ke konten utama

Quarter Crisis of My Life

Krisis dalam kehidupan yang saya alami adalah di usia 18 tahun, 25 tahun, dan 32 tahun. Ketiga fase ini kebetulan berjenjang 7 tahun. Sebelum itu, saya juga sadar sebelum itu saya mengalami krisis. Ya, di usia 11 tahun. 

Beranjak dari usia anak-anak menuju dewasa, orang tua saya bercerai. Konflik panjang dimulai-sampai sekarang belum selesai. Pertengkaran disertai kekerasan, kebencian, dan dendam mengawali krisis pertama dalam hidup. Ayah, yang saat itu menjadi tumpuan utama pergi meninggalkan keluarga. Saya sempat mencari beliau, bahkan meminta beliau kembali. Namun, tidak berhasil. Peristiwa ini mengawali sederet mimpi buruk-saya sempat berpikir- tidak berkesudahan. 

Sampai pada usia lulus sekolah saya mengalami krisis kepercayaan terhadap orang tua. Pola pikir mulai terbangun, jati diri berusaha diraih. Nyatanya menggiring saya menuju realitas kehidupan yang lebih pahit dan mencengangkan. Keluarga saya, merupakan prioritas bagi menjadi persoalan nyata dan tajam yang harus saya hadapi. Di sisi lain, saya mulai menyadari bahwa saya membutuhkan perhatian dari orang lain selain keluarga. Sayapun, untuk pertama kalinya merasa tersentuh dengan lingkungan sosial di sekeliling saya. 

Fase dewasa yang orang-orang lain lalui terlihat begitu mudah bagi saya saat itu. Diiringi kebutuhan untuk 'beranjak' dari rumah dan mengejar mimpi saya bekerja keras dan terus belajar menikmati hidup. Besar usaha yang saya berikan di fase ini adalah, melayani keluarga sebagai bentuk kasih sayang yang terpaksa. Pikiran dan gagasan baru mulai muncul di kepala saya seiring meluasnya pergaulan sosial yang saya alami. Menjadi pertimbangn lain di luar keputusan keluarga. Singkatnya, saya menjelma menjadi anak perempuan pemberontak sebab nilai-nilai baru yang saya tawarkan. Tetapi keluarga saya, termasuk ibu tidak mengenal kompromi dan dialog setara. Akhirnya, masa konflik paling memanas terasah disini. Hampir setiap hari saya menangis dan kelelahan. Saya melakukan tugas domestik seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus pakaian ibu dan saudara laki-laki saya serta melayani semuanya. Kedepannya saya menemukan potensi saya sekaligus, era paling penuh umpatan dalam pikiran saya. 

Saat saya mulai bekerja-meskipun di usia 18 tahun saya sudah mulai bekerja- setelah lulus kuliah. Saya memulai petualangan baru yang lebih luas tentang dunia kerja. Sebagian besar pengalaman kerja saya d i lembaga pendidikan baik non formal maupun informal. Meskipun pernah merasakan pengalaman bekerja magang di ibu kota. Saya-tanpa sengaja-terseret arus menjadi seorang pekerja sosial atau aktifis sosial. Meskipun sayapun tidak yakin apakah ini bisa disebut sebuah pekerjaan oleh ibu saya. Definisi tentang pekerjaan yang berbeda di mata ibu saya dan keluarga membuat saya (kembali) merasa kesepian dan sendirian. Hari-hari itulah saya mengisi kekosongam dengan kegiatan-kegiatan sosial. Saya merasa lebih bermakna karena saya merasa dibutuhkan. Untuk pertama kalinya saya merasa percaya diri atas segala hal yang ada pada diri saya. Pertama kalinya juga daya menerima bahwa saya terluka. 

Lewat catatan tentang 'Broken Home Survival' Mba Alissa Wahid saya mulai membuka proses pemulihan luka batin yang hampir saya tahan rasa sakitnya. Pelan-pelan saya mengenali gejala, rasa, dan dampaknya dalam diri saya. Meskipun saya tidak langsung terbuka dengan orang lain tentang persoalan ini, saya merasa sangat beruntung saya memiliki kesempatan untuk menyelesaikan ini. Hingga saat saya menulis catatan ini, rasa takut akan kegagalan menjalin relasi masih ada. Seringkali berujung pada perasaan negatif, saya merasa tidak pantas untul dicintai. 

Empat belas September tahun ini bertepatan saat pandemi menyerang kami. Saya menulis ini sebagai pengingat kepada diri saya sendiri. Bahwa sosok saya hari ini merupakan sebuah perjalanan panjang yang telah menghabiskan waktu, keringat, dan air mata. Bahwa saya harus yakin terhadap diri sendiri bahwa saya mampu melewati krisis saat ini melanda diri saya. Apakah saya bisa bahagia? Adalah pertanyaan paling utama dari semrawutnya pergulatan pikiran yang saya alami. 

Saya belum menikah, sayapun tidak sedang jatuh hati kepada siapapun. Saya pikir karena saya terlalu banyak berpikir dan masih keras hati. Atau karena rasa lelah terhadap konflik orang tua yang sampai saat ini masih belum sepenuhnya berdamai. Atau mungkin pula keduanya. Yang pasti saya ingin selalu berada pada prinsip yang selama ini saya bangun bahwa: saya berdaulat atas hidup saya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...