Hujan, mendung yang bertumpuk di
barat laut serta merta terurai menjadi rintik air. Dalam sekejap, suara
bergemuruh disertai gelegar yang seolah membelah langit yang tak tampak lagi
guratannya. Aku melihat keluar jendela, menyibak gorden yang menutupi jendela. Kutempelkan pipiku di tralis besi
yang dingin. Lalu, kunikmati tarian air yang terjun dari atas. Entah, hujan
kali ini seperti penghapus rindu. Mengurai resah karena harapan yang terlalu
tinggi.
Kuhembuskan nafas dalam-dalam, serta
merta tergerak bahuku. Ah, mungkin karena beban terlalu sibuk kutanam dalam
pikiranku. Membiarkannya tumbuh menjadi bibit kecemasan, lalu berkembang menjadi
kekhawatiran, tak ayal sampai berbuah ketakutan. entah kenapa pikiranku menjadi
ladang yang subur bagi setiap fase-fase derita itu.
Lagi, kunikmati rinai yang mengalun
bersama nada-nada angin yang terhempas dalam harmoni. Kubiarkan kulitku
meratapi dingin yang begitu dalam. Dingin nyata, dibanding kebekuan hati yang
teguh kupertahankan. Menimpakan kesegaran, menghapus kejenuhan. Lalu, pikiranku bergerak menjadi pencetak
kalimat-kalimat Tanya.
‘kenapa hujan, kenapa harus hujan?.’
‘Kenapa warna abu-abu yang menyambut
hujan, mengiringinya dan bahkan menghantarkannya pergi?.’
‘Kenapa dingin menjadi sayap-sayap hujan, membawa rintiknya bersama angin
yang berlari?.’
Lalu sekian Tanya lain yang sekejap
tercipta bersamaan dengan percikan yang menghatam tanah. Membasahi jengkal-jengkal
tanah, menepuk dedaunan bagai alunan gendang yang membuatmu ingin
menari.kemudian tetes-tetesnya merambat turun dari dahan tua. Kembali rindu
menyeruak, dan kenapa hujan selalu datang membawa rindu?.
Bersambung . . .
MarLeni
Cirebon, 21 Desember 2012
Komentar
Posting Komentar