Langsung ke konten utama

KALA HUJAN



            Hujan, mendung yang bertumpuk di barat laut serta merta terurai menjadi rintik air. Dalam sekejap, suara bergemuruh disertai gelegar yang seolah membelah langit yang tak tampak lagi guratannya. Aku melihat keluar jendela, menyibak gorden yang menutupi  jendela. Kutempelkan pipiku di tralis besi yang dingin. Lalu, kunikmati tarian air yang terjun dari atas. Entah, hujan kali ini seperti penghapus rindu. Mengurai resah karena harapan yang terlalu tinggi.
            Kuhembuskan nafas dalam-dalam, serta merta tergerak bahuku. Ah, mungkin karena beban terlalu sibuk kutanam dalam pikiranku. Membiarkannya tumbuh menjadi bibit kecemasan, lalu berkembang menjadi kekhawatiran, tak ayal sampai berbuah ketakutan. entah kenapa pikiranku menjadi ladang yang subur bagi setiap fase-fase derita itu.
            Lagi, kunikmati rinai yang mengalun bersama nada-nada angin yang terhempas dalam harmoni. Kubiarkan kulitku meratapi dingin yang begitu dalam. Dingin nyata, dibanding kebekuan hati yang teguh kupertahankan. Menimpakan kesegaran, menghapus kejenuhan.  Lalu, pikiranku bergerak menjadi pencetak kalimat-kalimat Tanya.
            ‘kenapa hujan, kenapa harus hujan?.’
            ‘Kenapa warna abu-abu yang menyambut hujan, mengiringinya dan bahkan menghantarkannya pergi?.’
            ‘Kenapa dingin menjadi  sayap-sayap hujan, membawa rintiknya bersama angin yang berlari?.’
            Lalu sekian Tanya lain yang sekejap tercipta bersamaan dengan percikan yang menghatam tanah. Membasahi jengkal-jengkal tanah, menepuk dedaunan bagai alunan gendang yang membuatmu ingin menari.kemudian tetes-tetesnya merambat turun dari dahan tua. Kembali rindu menyeruak, dan kenapa hujan selalu datang membawa rindu?.
 Bersambung . . .
MarLeni
Cirebon, 21 Desember 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...