Pagi ini aku bersama adik bungsuku glimpungan di kamar. Meskipun masing-masing sibuk dengan gawai, aku menonton drama, sementara dia mendengarkan musik kesukaan. Sempat terjadi obrolan singkat diantara kami. Awalnya adikku meminta aku memakai head set karena suaranya terasa tidak nyaman dan saling bertabrakan.
"Sebentar", kataku sambil bangkit dan mengambil headset di atas meja belajar. Setelah itu kembali berbaring di sampingnya, melanjutkan menonton drama.
"Tadi malam mengobrol apa sama mama?", tanyaku seketika aku menekan tombol pause.
"Ya, begitu" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. Aku membalikkan badanku sehingga kami berhadapan.
"Aku setuju kalau kaku tetap bekerja di luar, meskipun keadaannya demikian" akupun tidak paham, keadaan demikian itu seperti apa, hanya untuk mewakili ketidaksetujuan mama.
"Memang iya" jawabnya singkat. Aku diam, adikku menatapku. Sejurus kemudian dia bercerita tentang diskusi panjang dengn mama dan kakaku. Mesikupn aku tidak ikut, pembicaraan mereka terdengar dari kamarku.
Di akhir cerita dia tampak kecewa dan sedih. Tapi dia adikku, aku tahu benar. Ketika rahangnya mengeras dan sedikit berdenyut, tandanya dia menyimpan emosi yang cukup besar.
Aku menghela nafas. Sambil menatap langit-langit.
"Aku resign dari kantor". Ucapku datar.
"Resign?" Responnya mengejutkanku, tak kusangka dia akan akan antusias. Apalagi dengan pandangannya. Entah kecewa atau iba. Aku hanya mengangguk tanpa menatapnya.
"Pasti berat ya menghadapi kantor yang mengalami kebangkrutan"ucapnya dengan nada stabil. Aku menelan ludah.
"Begitulah. Jika tetap bertahan, ini akan berdampak buruk terhadap diriku. Tapi, saat aku bertahannpun tidak mampu membuatnya lebih baik, bahkan mungkin lebih buruk" ungkapku demgan suara kering.
Beberapa saat kami terdiam. Sementara musik masih terdengar.
Aku berbalik melanjutkan menonton drama meskipun pikiranku entah dimana. Tak terasa air mataku menetes, aku mengusapnnya. Sambil menonton mencoba berkamuflase.
Adikku menepuk bahuku, rupanya tangisku terdengar. Tanpa menoleh aku bertanya ada apa.
"Kakak sedang apa?" Tanyanya, membuatku semakin tak mampu membendunya. Terus mengalir dari kedua mataku bahkan sambil sesenngukan. Lalu kujawab "nangis!"
"Sebentar", kataku sambil bangkit dan mengambil headset di atas meja belajar. Setelah itu kembali berbaring di sampingnya, melanjutkan menonton drama.
"Tadi malam mengobrol apa sama mama?", tanyaku seketika aku menekan tombol pause.
"Ya, begitu" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. Aku membalikkan badanku sehingga kami berhadapan.
"Aku setuju kalau kaku tetap bekerja di luar, meskipun keadaannya demikian" akupun tidak paham, keadaan demikian itu seperti apa, hanya untuk mewakili ketidaksetujuan mama.
"Memang iya" jawabnya singkat. Aku diam, adikku menatapku. Sejurus kemudian dia bercerita tentang diskusi panjang dengn mama dan kakaku. Mesikupn aku tidak ikut, pembicaraan mereka terdengar dari kamarku.
Di akhir cerita dia tampak kecewa dan sedih. Tapi dia adikku, aku tahu benar. Ketika rahangnya mengeras dan sedikit berdenyut, tandanya dia menyimpan emosi yang cukup besar.
Aku menghela nafas. Sambil menatap langit-langit.
"Aku resign dari kantor". Ucapku datar.
"Resign?" Responnya mengejutkanku, tak kusangka dia akan akan antusias. Apalagi dengan pandangannya. Entah kecewa atau iba. Aku hanya mengangguk tanpa menatapnya.
"Pasti berat ya menghadapi kantor yang mengalami kebangkrutan"ucapnya dengan nada stabil. Aku menelan ludah.
"Begitulah. Jika tetap bertahan, ini akan berdampak buruk terhadap diriku. Tapi, saat aku bertahannpun tidak mampu membuatnya lebih baik, bahkan mungkin lebih buruk" ungkapku demgan suara kering.
Beberapa saat kami terdiam. Sementara musik masih terdengar.
Aku berbalik melanjutkan menonton drama meskipun pikiranku entah dimana. Tak terasa air mataku menetes, aku mengusapnnya. Sambil menonton mencoba berkamuflase.
Adikku menepuk bahuku, rupanya tangisku terdengar. Tanpa menoleh aku bertanya ada apa.
"Kakak sedang apa?" Tanyanya, membuatku semakin tak mampu membendunya. Terus mengalir dari kedua mataku bahkan sambil sesenngukan. Lalu kujawab "nangis!"
Komentar
Posting Komentar