Langsung ke konten utama

Kesalahan atau Penyesalan


Entah karena menyesal, berarti hal tersebut salah, atau karena salah maka rasa penyesalan muncul. Keadaan tersebut bisa sangat relatif tergantung dari konteks yang ada.
Seperti perasaan menyesal yang tengah bergumul dalam perasaan saya saat ini. Disebut perasaan, karena melibatkan melibatkan emosi. Hal tersebut ditandai dengan perasaan cemas, gusar, dan bahkan detak jantung bertambah cepat. Kemudian, pikiran kita merespon dengan memunculkan perilaku, seperti sorot mata yang berubah, atau meminimalisir gerak tubuh.
Hal tersebut adalah respon dari tubuh secara alami yang terkontrol oleh pikiran, dari alam bawah sadar menuju kesadaran.pada proses inilah, kebiasaan berpikir kita akan merespon. Baik dengan cara dediktif maupun induktif.
Misalkan, secara intuitif pokok kesalahan itu sudah muncul dalam pikiran. Lalu, akan bergerak ke sebuah pertanyaan-pertanyaan yang lebih khusus. Misal, kenapa hal ini salah bagi orang lain dan bagaimana orang lain memandang ini sebagai sebuah kesalan. Atau, dengan cara mencari ciri-ciri khusus dari respon yang diberikan orang lain. Gesture atau bahasa tubuh, kalimat yang diungkapkan, sorot mata yang menunjukan pada pokok kesalahan yang kita perbuat.
Hal ini, sekali lagi bisa sangat relatif. Apalagi yang saya ungkapkan sangatlah subjektif, dari pengalaman yang pernah saya lalui. Akan tetapi, menurut saya hal ini tidak dapat diabaikan. Mengingat, secara empiris, artinya secara umum seseorang mengalami sebuah penyesalan karena melakukan penyesalan. Atau merasa menyesal, kemudian berpikir menemukan kesalahannya.
Diluar itu semua, harus tetap disadari bahwa manusia memang rentan melakukan kesalahan. Bahkan manusia mutlak melakukan kesalahan. Akan tetapi, yang kemudian menjadi perbedaan bagi kualitas diri manusia adalah, apakah dia mengabaikan begitu saja kesalahannya, atau mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut. Namun, yang tak kalah penting adalah, menyadari bahwa telah melakukan kesalahan.

Cirebon, 12 Mei 2018
Marleni 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

Dear, Marleni

Hai Marleni, kamu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah berjuang sampai sejauh ini. Melakukan perubahan-perubahan dalam hidupmu. Menghadapi tantangan-tantangan hidup dengan tetap bersandar pada nilai dan prinsip hidup yang kau yakini. Terima kasih sudah berbuat baik dan memupuk dadamu dengan cinta kasih. Terima kasih mau bangkit lagi meskipun sudah jatuh berkali-kali.  Terima kasih tetap bertahan meskipun kamu sendirian. Terima kasih tetap percaya kepada orang-orang di sekelilingmu meskipun berkali-kali mendapati penghianatan. Tidak apa jika pernah kecewa atau menangis sekencang-kencangnya dalam diam dan kesepian. Kamu yakin bukan bahwa Tuhan menyayangimu?. Ia  maha segalanya, memberimu banyak kekuatan dan kasih sayang sehingga membuatmu bisa menerima dan memaafkan dan mengasihi setiap makhluk yang kau temui.  Penolakan dari orang lain tidak sepenuhnya karena kamu penyebabnya. Bisa jadi mereka hanya lelah dan sedih atas kehidupan yang mereka jalani. Selalu inga...