Entah karena menyesal, berarti hal tersebut salah, atau karena salah maka rasa penyesalan muncul. Keadaan tersebut bisa sangat relatif tergantung dari konteks yang ada.
Seperti perasaan menyesal yang tengah bergumul dalam perasaan saya saat ini. Disebut perasaan, karena melibatkan melibatkan emosi. Hal tersebut ditandai dengan perasaan cemas, gusar, dan bahkan detak jantung bertambah cepat. Kemudian, pikiran kita merespon dengan memunculkan perilaku, seperti sorot mata yang berubah, atau meminimalisir gerak tubuh.
Hal tersebut adalah respon dari tubuh secara alami yang terkontrol oleh pikiran, dari alam bawah sadar menuju kesadaran.pada proses inilah, kebiasaan berpikir kita akan merespon. Baik dengan cara dediktif maupun induktif.
Misalkan, secara intuitif pokok kesalahan itu sudah muncul dalam pikiran. Lalu, akan bergerak ke sebuah pertanyaan-pertanyaan yang lebih khusus. Misal, kenapa hal ini salah bagi orang lain dan bagaimana orang lain memandang ini sebagai sebuah kesalan. Atau, dengan cara mencari ciri-ciri khusus dari respon yang diberikan orang lain. Gesture atau bahasa tubuh, kalimat yang diungkapkan, sorot mata yang menunjukan pada pokok kesalahan yang kita perbuat.
Hal ini, sekali lagi bisa sangat relatif. Apalagi yang saya ungkapkan sangatlah subjektif, dari pengalaman yang pernah saya lalui. Akan tetapi, menurut saya hal ini tidak dapat diabaikan. Mengingat, secara empiris, artinya secara umum seseorang mengalami sebuah penyesalan karena melakukan penyesalan. Atau merasa menyesal, kemudian berpikir menemukan kesalahannya.
Diluar itu semua, harus tetap disadari bahwa manusia memang rentan melakukan kesalahan. Bahkan manusia mutlak melakukan kesalahan. Akan tetapi, yang kemudian menjadi perbedaan bagi kualitas diri manusia adalah, apakah dia mengabaikan begitu saja kesalahannya, atau mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut. Namun, yang tak kalah penting adalah, menyadari bahwa telah melakukan kesalahan.
Cirebon, 12 Mei 2018
Marleni
Komentar
Posting Komentar