Aku tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Benar, biar saja
segala adegan dalam pandanganku terus menerus bergulir. Aku- jiwaku lebih
menyukai scene yang tengah aku
lewati, satu scene saja tidak usah berubah. Dalam adegannya aku hanya perlu
diam, hanya ingin diam. Lalu angin dan hujan menari lebih deras dalam
pandaganku, dan kubiarkan saja.
Tik, tik, tik . . .sore itu gerimis lihai mengajakku memburu
kenangan. Tapi aku enggan menurutinya, kubiarkan langkahku tak bergerak. Hanya
dalam diamku, hanya dalam inginku. Do, do, do, so . . .
tiba-tiba suara rintik mlemparkan nada yang berbeda. aku menoleh sejenak,
mengikuti nada langkahnya. Ada apa ini? bukankan nada-mu adalah tik, tik, tik ?
lalu kenapa sekarang do, do, do, so? Eh tidak kali ini do, so, fa, mi, do. Aku
menggelengkan kepalaku berusaha mengusir hayalan ini. ternyata tidak berhasil,
yang benar saja. Sejak kapan gerimis lebih lihai dari pianis, berani memainkan
ketepatan nadanya.
Aku melongok keluar jendela, menyebar pendangan ke arah air
yang turun bergemericik penuh ramai- dan penuh nada. Aku menatap mereka lekat-lekat,
hanya hujan biasa, air yang berarak turun membasahi tanah. Tapi, telingaku!
Lagi-lagi mendapati mereka tengah bermain dan suara-suara yang terdengar
gendang telingaku.
Do-fa-mi-re-do, . . . dan entah . . .
Matanya yang teduh menurunkan senyum yang tidak terbatas.
Aku hanya memandang cahaya yang menggeliat dari setitik api di cempor minyak itu. suara gemuruh saling bersahutan,
bergatian. Di sekelilingku ramai berbaju putih lusuh. Aku menatap tanganku,
gemetaran. Entah, aku mengusap pipiku yang basah oleh keringat dengan ujung
lengan bajuku, berwarna putih dan lusuh pula. Aku menatap kembali senyum itu,
merekah untukku.
‘lalu, nok. Kapan basmalah akan dimulai??”.
Dia tersenyum,
aku mencuri pandanganku ke segala penjuru. Tiba-tiba perlahan suara-suara
gemuruh bergantian itu perlahan menipis, perlahan kemudian sepi. Mata-mata
pemilik baju putih lusuh itu kini bergantian mentapku. Aku menghindari
pandangan mereka, dan beralih menatap wajah pemilik senyuman teduh itu.
Tiba-tiba nafasku memburu dari rongga dadaku. Sesak sekali,
tapi aku hanya berani menatapnya. Dia mengangguk, lalu kembali tersenyum. Tangan
kananya diangkat, seperti menggerak-gerakkan angin ditelapak tangannya. Dan
setelah itu suara gemuruh kembali, sedikit- demi sedikit dan akhirnya seperti
suara gemuruh bersahutan seperti sedia kala. Sesak dalam rongga dadaku meluncur
deras menuju tenggorokanku. Lalu dikuti nafas yang memburu.
“a “ Mulutku perlahan terbuka. Aku melirik kearahnya, dia
mengangguk. Tangannya menunjuk lembaran satu persatu dihadapanku. Sesekali
mulutnya bergerak mencontohkan. Aku mengikutinya, sesekali melihat matanya
meminta persetujuan.
Perlahan aku mengeluarkan suaraku bercampur bersama gemuruh
yang bersahutan itu. bersama pemilik mata berkain putih lusuh itu. deru nafasku
semakin teratur keluar dari tenggorokanku tidak ada sekat lagi. Bahkan mengalun
begitu lembut dan teratur. Seperti gemericik hujan yang kudengar saat ini. mengalunkan
nada-nda yang persis pernah kukenal, suara gemuruh yang bersahutan. Lalu, kusimak bentangan nada yang disajikan hujan. Semakin
derasa, semakin bergemuruh, bersahutan.
![]() |
| foto MarLeni Adiya |

Komentar
Posting Komentar