Langsung ke konten utama

Gusdur, Tokoh warisan Dunia

Gusdur merupakan mantan presiden Indonesia yang menjadi figur guru Bangsa. Gusdur merupakan tokoh pesantren yang mencuat menjadi tokoh nasional karena gagasan dan ide-ide yang plural dan moderat. ide-idenya yang modern dan universal menjadi oase ditengah kehidupan bangsa. karena gagasan-gagasan beliau yang begitu penting tersebut, meskipun beliau telah tiada akan tetapi gagasan-gagasan dan perjuangan beliau menjadi warisan bangsa. Warisan gusdur tidak hanya milik Indonesia, tapi juga milik bangsa-bangsa di dunia.
Oleh para Cendekiawan sekaligus sahabat Gusdur, Gagasan dan Perjuangan Gusdur dirumuskan dalam 9 Nilai Gusdur. 9 nilai gusdur tersebut adalah : Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan, dan kearifan lokal.
Nilai-nilai tersebut memang terlihat dalam perjuangan gusdur mewujudkan kemanusiaan. Ketauhidan merpakan nilai utama yang diperjuangkan gusdur. Bagaimana Gusdur menyelami ketauhidan sebagai sesuai yang mennghujam batin secara tajam serta mengaktualisasikan ketauhidan Tuhan sebagai sang Maha pemilik rahmat. Nilai ketauhidan yang secara substatif gusdur selami juga mengaktualisasikan gusdur sebagai sosok yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Karena meyakini bahwa rahmat tuhan kepada seluruh makhluk, maka gusdur sangat memuliakan manusia. Karena jika kita menghinakan manusia maka sama halnya kita menghinakan Tuhan.
Keadilan menurut gusdur adalah keseimbangan dan kelayakan-kelayakan hidup yang ada ditengan manusia. Nilai keadilan tidak serta merta ada, akan tetapi harus diciptakan. Nilai kesetaraan juga tidak lepas dari perjuangan Gusdur, karena gusdur menganggap bahwa kita manusia yang sama dihadapan tuhan,
Tidak hanya itu, gusdur juga memperjuangkan kemerdakaan secara substansial . kemerdekaan yang sejati bagi gusdur adalah milik jiwa-jiwa yang bebas. Karena itu gusdur senantiasa memperjuangkan pembebasan terlebih terhadap orang-orang yang dimarjinalkan kebebasan hidupnya.
Meskipun Gusdur merupakan tokoh bangsa sekaligus negarawan, akan tetai gusdur tidak lepas dari sifat sederhana. Kesederhanaan beliau dapat dilihat dari cara hidup beliau. Kesedrhanaan beliau merupakaan counter dari sifat berlebihan.
Sifat persaudaraan beliau digambarkan dengan sahabat-sahabat gusdur yang lintas etnis, ras, bangsa dan agama. Begitu gusdur sangat dekat beberapa tokoh dari negara dan tokoh agama-agama di Indonesia bahkan dunia.
Gusdur menjunjung sifat kesatriaan, maksud dari nilai kesatriaan adalah kita bertanggung jawab dengan diri kita. Tidak hanya itu, sifat ksatria bagi gusdur tidak hanya berani tapi tidak menyerah untuk membela yang benar.

Kearifan Lokal meruapan nilai yang memang secar konsisten dipegang gusdur. Gusdur meskipun memiliki gagasan dan ide-ide yang modern akan tetapi tetap bercorak lokal. Dilihat dari kesenian-kesenian yang disukai gusdur, sekaligus sikap beliau yang begitu nyanti dan sangat Indonesia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...