Langsung ke konten utama

HAMPARAN ARANG



            Mataku terbuka perlahan, dalam beberapa kedipan. Kemudian aku menegakan posisi dudukku. aku memandang sisi kanan dan sisi kiri. mencoba mencari hal yang menarik untuk kusimak ditengah bus yang bergoncang karena jalanan yang berkelok. pagi ini, menjadi pagi pertamaku di pulau yang berjuluk andaman, pulau sumatera. setelah malam tadi hanya menyaksikan siluet-siluet tumbuhan kelapa sawit dari kaca jendela yang berbalut kabut putih. Kini hamparan hijau terlihat jelas.
            Duduk di sisi kanan bus, sinar matahari langsung menghatamku setelah menembus kaca jendela. Menyusup tegas diantara celah-celah pepohonan diluar sana. menembus kaki-kaki kuat milik pekerja karet itu. langkahnya bergerak cepat naik ke truk besar didepannya. memakai kemeja, penutup kepala, dan sepatu boots. atau entah apa lagi. karena aku hanya secepat kilat melintasi roombongan pekerja karet yang hendak berangkat. karena selanjutnya, deretan pohon karet berderet disisi kanan dan kiri jalan.
            Puluhan, atau mungkin ratusan hektar pohon karet berderet. Kesegarannya menancap memberi semangat. Tapi selanjutnya aku seperti terbakar, perlahan asa-ku meleleh melihat bukit-bukit yang menghitam. batang-batang pohon bergelimpangan, dan akar-akar pohon yang tersisa bekas penebangan masih terlihat. berkepul udara hangat pagi yang menjadi panas. meghembus daratan penuh arang itu. terbakar, atau dibakar. saat pohon-pohon karet itu ditebang, entah apa yang terjadi. Ditengah daratan arang itu masih terlihat rumah kecil bilik-bilik kayu yang semi permanen beratap asbes. Berteriak kesepian yang membisu.
            Sisi kananku persis seperti bukit-bukit arang saat jalan yang kami lalui berbelok. tak cukup itu, disisi kiri kami bilik-bilik kayu itu masih segar berdiri. tanpa jejak-jejak arang. tapi aku tahu pohon tumbang beberapa waktu lalu. karena potongan pohon bagian masih nampak segar ditengah-tengah kebun singkong. ada yang baru tertanam dan sudah terlihat rimbun dengan dedaunan. Seperti ada nada lugu yang tengah mengalun, tapi tak terdengar.
            Leherku bergerak kekanan-kiri. pemandangan tadi tidak habis hanya dalam satu atau 2 kilometer, puluhan dan mungkin ratusan hektar. tanah yang bergelombang itu berbentuk hamparan tanah gundul atau bahkan bukit arang, menghitam. entah aku semakin tidak nyaman. hingga sampai pada perkampungan. aku mencoba mencari plang ada dimna aku saat ini. saat aku berbelok ke kiri, kutemui sebuah tulisan. pematang, mesuji-lampung. Entah apa yang telah terjadi disini, tapi jelas kurasakan ada luka yang masih segar tertoreh.

Mesuji, 30 Nopember 2012
MarLeni

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendung Sabtu Sore

Angin bertiup kencang lembab dan terasa dingin. Sekumpulan langit abu-abu berarak dari utara. Membuka kenangan akan kesedihanku. Saat air mata seketika mengalir ketika kuingat tak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada mimpi, tidak ada cinta, dan bayangan indah dalam pikiranku telah sotna. Gelap pekat tak berdasar. Apakah demikian adalah masa depanku, hidup yang harus kutempuh.  Dengan berbagai macam cara aku membangun kesadaranku. Agar ia membangkitkan diriku dari kubangan hitam yang menjerat. Agar mampu berpikir jernih, lalu menerima diriku sebagai manusia. Sambil tetap berpikir, jahat sekali orang-orang memperlakukanku demikian. Kenapa aku harus menerima ini semua?  Dadaku sesak saat menyadari bahwa begitu banyak waktu yang kuhabiskan dengan membenci. Bersamaan melelehnya sebongkah sesak di dadaku, seiring pertanyaan yang muncul dalam kepalaku: Apakah aku tidak layak untuk dicintai?.  Orang-orang bilang bahwa aku terlalu keras hati. Kupikir mereka benar, sebab sedari dulu,...

Ulasan Serial Drama Korea 'When the Weather is Fine' 2020

Saya teringat ungkapan salah satu sastrawan Indonesia, Tontonan kita (Indonesia) sangat jauh dari sastra. Dialog yang diungkapkan kosong, tidak punya makna yang mendalam. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang ingin disampaikan sebuah tontongan. Hal ini menjadi penyebab baik film maupun sinetron tidak menjadi sebuah hasil karya seni yang sarat makna. Hanya sekedar tontongan yag tidak ada gunanya.  Berbading terbalik dengan industri perfileman Korea Selatan, baik Serial Drama televisi maupun filmnya menjadi hasil karya yang patut diperhitungkan dan menjadi magnet belakangan ini. Bahkan menjadi pengarusutamaan budaya tersendiri di berbagai negara. Salah satunya di indonesia. Selain industri yang dikelola dengan baik sekaligus diksi dalam dialognya membawa pesan yang mendalam dalam kehidupan.  Seperti yang bisa saya dapat dari drama when the weather is fine. Sebuah drama televisi hasil adaptasi novel berjudul sama yang terbit tahun 2018. Mengisahkan hubungan romansa anta...

menegangkan sama dengan mengerikan

  Memacu sepeda motorku, kuarahkan ke pasar pagi ini. Cuaca mendung, hembusan angin membawa hawa dingin. Napasku tertahan kain masker yang menutup lebih dari separuh wajahku. Aku duduk dengan tidak nyaman, sebab rok span yang kukenakan. Sementara ponakanku yang menginjak lima tahun berdiri di belakang kemudi, adiknya perempuan berusia dua tahun duduk di pangkuan ibuku di jok belakang. Terpaksa kutahan sejenak-kupikir demi keselamatan-. Sampai pada persimpangan jalan raya ia berteriak, ada mobil polisi, ujarnya gembira. Aku beringsut, terkejut dibuatnya, kulirik senyum balita laki-laki ini terlihat jelas, ia tidak memaki masker.   Kuantar ibuku sampai di warungnya. Setelah itu bergegas kembali kupacu gas, berbalik dari gang kecil di belakang pasar. Jalanan sempit dan menikung tajam kutempuh, demi mencapai sebuah tujuan, terbebas dari tilangan polisi. Meskipun yang harus kuterima adalah kedua ponakanku yang duduk dibelakangku, sementara tangan kecilnya begitu lembut berpegan...